Harga Pertamax Naik, Warga Semarang Mulai Kurangi Mobilitas Harian

ANTREAN: Suasana antrean pembelian BBM di SPBU Veteran Semarang, Rabu (10/6/2026). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026) diperkirakan tidak berdampak besar terhadap mayoritas masyarakat Provinsi Jawa Tengah.

Meski demikian, sejumlah pengguna Pertamax mengaku keberatan karena harus menambah pengeluaran transportasi di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

Ningwan (26), salah satu warga, mengaku kenaikan harga BBM membuat beban pengeluaran transportasinya bertambah.

Selama ini ia mengandalkan Pertamax karena ketersediaan Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kerap terbatas dan antreannya panjang.

“Kenaikan BBM ini jelas memberatkan. Otomatis biaya hidup, khususnya transportasi, ikut naik,” keluhnya.

“Pertalite di daerah saya juga sering sulit didapat dan kalau ada antreannya panjang. Karena diburu waktu setelah kerja, saya sering tetap membeli Pertamax meskipun sekarang harus mengurangi jumlah pembelian,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Yusuf Firdian (26), seorang mahasiswa di Semarang. Pengguna mobil hybrid tersebut mengaku tetap harus menggunakan BBM beroktan minimal RON 92 sesuai spesifikasi kendaraan.

Namun, ia berencana mengurangi pembelian BBM dan frekuensi perjalanan untuk menyesuaikan pengeluaran harian.

“Kalau ditanya tanggapan tentu kecewa karena kenaikannya cukup tinggi. Mau tidak mau tetap pakai Pertamax karena spesifikasi mesin,” ungkapnya.

“Ke depan mungkin pembelian saya kurangi dan lebih sering menggunakan motor. Saya juga mengurangi perjalanan yang tidak terlalu penting karena khawatir harga kebutuhan lain ikut naik,” ujarnya. (hfh/iza/rds)