YOGYAKARTA, Joglo Jateng – Sejumlah seniman sastra macapat Kota Yogyakarta ikut memeriahkan hari ulang tahun ke-265 kota tersebut. Para seniman itu melantunkan panembrama tembang macapat diiringi tabuhan gamelan. Pagelaran tersebut bertepatan dengan kegiatan rutin tahunan Gelar Macapat.
“Lirik lagu macapat yang dibawakan pun disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini,” jelas Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Ismawati Retno, Senin (4/10).
Dalam kesempatan itu, sastrawan macapat melantunkan tembang dengan lirik, yang berisi harapan agar pandemi segera berakhir. Sekaligus doa agar masyarakat Kota Pendidikan itu semakin sejahtera.
Menurut Ismawati, pilihan lagu-lagu macapat tersebut juga selaras dengan tema besar peringatan HUT ke-265. Tema tersebut ialah Tanggap, Tanggon, lan Tuwuh.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pemain turut terlibat dalam Gelar Macapat yang diselenggarakan di Ndalem Ngabean. Di antaranya, Ratun Untoro, Muhammad Bagus Febriyanto, Slamet Nugroho, dan KMT Wasitohadibroto.
Total ada 11 tembang macapat yang dibawakan secara silih berganti. Mulai dari Dhangdanggula, Sinom, Durma, Pangkur. Disusul Asmarandana, Kinanthi, Mijil. Lalu Megatruh, Gambuh, Maskumambang, dan terakhir Pocung.
“Gelar Macapat ini membuktikan jika seniman macapat di Yogyakarta juga terus menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini. Harus dihadapi untuk tetap bisa mengemban misi melestarikan budaya macapat,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Macapat KMT Projosuwasono menjabarkan, macapat adalah wujud karya seni yang didalamnya berisi sejumlah aturan yang tidak boleh ditinggalkan. “Mulai dari pupuh, titi laras, gatra, wilangoning wanda, dan pedhotan. Semua ada aturannya dan tidak boleh dilanggar,” sambungnya.
Hal itu sejalan dengan Kepala Bidang Sejarah Permuseuman Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Dwi Hana Cahya Sumpena. “Gelar Macapat dapat dijadikan sebagai sarana melestarikan tembang Macapat. Tentunya rasa cinta terhadap seni dan sastra Jawa diharapkan semakin meningkat,” tuturnya. (ara/fat)










