KUDUS, Joglo Jateng – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mulai melakukan pemetaan wilayah rawan longsor. Hal ini dilakukan, untuk mengetahui daerah-daerah di Kota Kretek yang sering terjadi longsor.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kudus Budi Waluyo mengatakan, hasil dari pemetaan terdapat dua desa di Kudus yang paling sering terjadi bencana tanah longsor. Yakni di Desa Menawan dan Rahtawu, Kecamatan Gebog.
“Jika intensitas hujan tinggi, bisa mengakibatkan dua desa itu paling rawan terjadi longsor. Dulu di dua desa itu pernah terjadi longsor di lima titik yang berbeda dalam waktu sehari,” ucapnya.
Menurutnya, potensi terjadinya longsor di Desa Rahtawu ada di berbagai titik. Beda dengan Desa Menawan yang biasanya terjadi longsor hanya di satu titik, yaitu di Dukuh Kambangan.
“Biasanya di tahun-tahun sebelumnya seperti itu. Bahkan, longsor yang terjadi di dua desa itu sampai menutup akses jalan. Memang biasanya yang terkena dampak longsor itu berada di akses jalan utama,” tuturnya.
Selain di Kecamatan Gebog tersebut, ada juga wilayah lain yang memiliki potensi longsor. Seperti di Kecamatan Dawe, tepatnya di Desa Ternadi, Japan, Kuwukan, Puyoh, Colo, Soco, Dukuh Waringin, Cranggang dan Kajar.
“Tapi tingkat kerawanannya tidak seperti di Desa Rahtawu dan Menawan. Biasanya di Kecamatan Dawe hanya longsor kecil, karena kultur tanahnya lebih kuat daripada yang di Kecamatan Gebog,” pungkasnya. (sam/fat)










