Batik Rajasa Mas Bangkit dari Pandemi

COBA: Seorang pengunjung mencoba salah satu koleksi kain batik di Galeri Batik Rajasa Mas, Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, beberapa waktu lalu. (ANTARA/JOGLO JATENG)

CILACAP, Joglo Jateng – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi satu di antara sekian sektor yang terdampak pandemi. Namun, hal ini tidak menyurutkan Tonik Sudarmaji dan Euis Rohaini, pengusaha batik Rajasa Mas, Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos untuk membangkitkan kembali usahanya. 

Dengan menurunnya sektor ekonomi, Tonik yang sudah memulai usahanya sejak 2008 mulai berbenah. Strategi pemasaran dari berbagai lini mulai ia jajal. 

“Kami konsisten dalam segala hal, pemasaran secara daring, dari pintu ke pintu, maupun pemasaran secara langsung. Jadi, sekarang semua lini kami kejar. Mudah-mudahan pandemi segera berakhir, sehingga ekonomi lekas pulih,” kata Tonik Sudarmaji, beberapa waktu lalu.

Pada awal pandemi, ia mengaku penjualan batik yang dilakukan secara konvensional mengalami penurunan 70-80 persen. Sebelumnya, nilai transaksi penjualan batik yang rata-rata bisa mencapai Rp 100 juta per bulan, turun menjadi rata-rata Rp30 juta per bulan.

Guna mengatasi kondisi ini, pihaknya membuka usaha baru berupa konveksi pembuatan masker kain batik maupun polos untuk memenuhi permintaan dari sejumlah relasi. Seperti Bank Jateng dan Bank Mandiri.

Selain itu, Rajasa Mas juga mendapat pesanan sebanyak 10.000 helai masker kain dari Gubernur Jawa Tengah. Bahkan November tahun lalu, mendapat pesanan dari Kementerian Kesehatan berupa pembuatan masker kain sebanyak 250 ribu lembar.

Rajasa Mas juga mendapatkan izin edar untuk memasarkan produk-produk kesehatan. Seperti masker, baju hazmat, dan sebagainya.

“Hingga sekarang pasar itu alhamdulillah masih jalan. Jadi, selain batik, kami juga punya pasar untuk APD (Alat Pelindung Diri),” terangnya.

Meskipun usaha yang baru dikembangkan itu telah membuahkan hasil, bukan berarti Tonik menghentikan usaha batik yang telah bertahun-tahun digeluti bersama istrinya. Ia tetap berupaya mencari celah pasar melalui pemasaran secara daring.

“Pandemi memberikan hikmah tersendiri bagi kami. Pemasaran secara daring yang sebelumnya kurang ditekuni, sekarang jadi maksimal,” katanya.

Bahkan saat sekarang, nilai transaksi batik Rajasa Mas yang dilakukan melalui pemasaran secara daring terus meningkat hingga mencapai kisaran Rp 30 juta. Tidak hanya itu, pandemi juga mendorong Tonik untuk melakukan riset tentang warna baru dan optimalisasi pewarnaan alam.

“Manajemen dalam segala hal juga harus mulai dipikirkan karena kalau ke depan terjadi seperti ini (pandemi, red.) lagi, kita kan jadi sudah siap. Intinya, jangan menyerah,” ucapnya.

Ia mengakui, jika dibandingkan dengan krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008, dampak krisis akibat pandemi Covid-19 sangatlah besar. 

“Kalau krisis sebelumnya (2008, red.) lebih ke sektor ekonomi, sedangkan krisis yang kali ini dampaknya ke semua sektor atau sendi kehidupan. Tapi alhamdulillah karena kita mau berusaha, berjuang, jadi kita bisa lewati walaupun dengan mengubah sistem bisnis kita, sehingga bisa tahu sistem baru dengan maksimal melalui pemasaran secara daring,” tegasnya.

Terkait dengan persiapan menyongsong era tatanan baru, saat ini pihaknya tengah merekrut tiga karyawan baru yang menguasai teknologi informatika sebagai upaya untuk menggenjot pasar ekspor. Hal itu dilakukan karena Rajasa Mas telah bergabung dengan salah satu e-commerce ternama, yakni Alibaba, dalam rangka memasarkan produk batik khas Maos tersebut.

Meskipun lambat, saat ini pesanan batik Rajasa Mas mulai bermunculan. Bahkan, beberapa instansi sudah mulai meminta sampel.

Batik Rajasa Mas yang merupakan batik khas Maos memiliki kekhasan tersendiri karena setiap lembar kainnya mendeskripsikan sejarah perjuangan masyarakat Jawa. Seperti tentang pedoman hidup, termasuk sandi-sandi peperangan di masa perang Pangeran Diponegoro. (ara/ern)