JOGLOJATENG.COM – Ayam ingkung merupakan ayam utuh yang dimasak dengan jeroan dan dimasak beserta santan hingga kering. Ciri khas makanan ini menggunakan ayam kampung jantan. Dalam beberapa literatur disebutkan, ayam utuh satu ekor tersebut melambangkan kesucian dan sikap pasrah kepada Tuhan.
Ingkung juga merupakan salah satu makanan sesaji dalam masyarakat Jawa. Nama ingkung berasal dari bahasa Jawa yaitu ing dan manekung yang berarti aku berhidmat. Pada awalnya ingkung merupakan sesaji pada masa Kerajaan Mataram. Kemudian menjadi makanan istimewa keluarga kerajaan, dan sekarang berkembang menjadi makanan khalayak yang dilestarikan.
Bagi pencinta kuliner ayam kampung atau masakan zaman dulu (jadul), menu ingkung layak untuk dicoba. Makanan yang dikenal dengan sebutan ingkung kenduren ini, rasanya nikmat dan memberi sensasi ke zaman dulu.
Kuliner ingkung kenduren atau ingkung jadul dapat dijumpai di Pasar Brambang, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Lokasinya berada tak jauh dari pusat Kota Wali, kurang lebih bisa ditempuh dalam waktu 45 menit.
Salah satu penjual ingkung ayam di Pasar Brambang, Alfiah menuturkan bahwa ingkung ayam kenduren yang dimasaknya menggunakan santan dan bumbu rempah-rempah, resep turun temurun dari pendahulu.
“Untuk varian ingkung nya ada tiga yaitu ayam kampung, ayam merah, ayam pejantan,” ujarnya yang telah berjualan ingkung sekitar sepuluh tahun lebih di Pasar Brambang, belum lama ini.
Menurut Alfiah, ayam ingkung yang dipotong dipastikan ayam yang sehat. Setelah dibersihkan, lalu direbus dengan bumbu spesial berupa rempah-rempah.
Direbus dengan durasi tertentu sehingga daging empuk tetapi tidak merusak citarasa daging ayam kampung. Sebelum disajikan, ayam ingkung yang telah matang ditiriskan untuk mengurangi kadar airnya.
“Ayam ingkung dipesan biasanya untuk acara maupun untuk hidangan makan setiap hari. Biasanya buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 13.00,” jelasnya sembari melayani konsumen setianya.
Warung ingkung Alfiah tidak mematok harga tinggi untuk seporsi ayam lengkap. Cukup merogoh kocek Rp 65.000 – Rp 125.000 saja untuk satu porsi yang dapat dinikmati hingga 4-5 orang.
“Pembeli setiap hari ada, tapi karena dalam kondisi pandemi Covid-19 penurunan pasti ada. Biasanya kalo hari besar atau ada acara-acara tertentu di masyarakat bisa habis sampe 50 ayam. Tapi kalo hari biasa hanya 20-30 ayam,” terangnya.
Kelezatan ayam ingkung dari warung Alfiah tidak dipungkiri lagi, salah satu pembeli, Jihan merasa ketagihan dengan cita rasa dan empuknya ayam ingkung yang kini bisa ia jumpai setiap hari di Pasar Brambang. Tidak perlu menunggu slametan atau ritual masyarakat, ia kini bisa menikmati ayam ingkung kapan pun dirinya mau.
“Ingkung ayam yang disajikan memiliki tekstur empuk dengan bumbu meresap hingga ke dalam, membuat orang enggan berhenti makan. Ini kali kedua beli di Pasar Brambang, nanti kalo ingin lagi ya tinggal kesini,” paparnya. (aji/gih)










