Batang  

Olah Limbah Organik Hutan Kota Rajawali jadi Kompos

GIAT: Para petugas saat mengolah limbah organik HKR menjadi kompos di Rumah Kompos HKR, Batang, Kamis (24/2). (HUMAS / JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang melakukan pengolahan limbah sampah organik yang berasal dari Hutan Kota Rajawali (HKR). Hal itu berawal dari kondisi HKR yang harus selalu bersih setiap harinya, sehingga sampah daun jati yang dikumpulkan menumpuk.

“Pada akhirnya, kita punya inisiatif untuk mengelola dan mengolah sampah daun jati menjadi kompos atau pupuk organik,” kata Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH, Ila Dhiama Warni saat ditemui di Rumah Kompos HKR, Batang, Kamis (24/2).

Ia mengatakan, bahwa rumah kompos baru berjalan selama dua minggu. Setiap hari Senin dan Kamis, pihaknya melakukan  proses pengelolaannya.

“Kompos atau pupuk dapat digunakan sebagai penyubur pada tanaman. Alhamdulillah, sampah daun jati bisa bermanfaat menjadi pupuk organik. Padahal tadinya sampah ini hanya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” jelasnya.

Ia menjelaskan, pupuk organik juga mempunyai manfaat untuk mengurangi dampak emisi gas rumah kaca. Yang mana, emisi gas rumah kaca menyumbang banyak perubahan iklim di Indonesia.

“Bisa dilihat saat kita membuang makanan dan sampah taman ke dalam tempat sampah. Maka sampah-sampah tersebut akan dibawa dan terkubur di tempat-tempat pembuangan sampah,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, saat sampah yang berada paling bawah mengalami pembusukan, terbentuklah gas metana. Gas metana akan merusak lapisan ozon bumi, karena gas metana termasuk gas-gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan

Untuk proses pembuatan kompos, lanjutnya, dimulai dari sampah daun jati utuh yang dimasukan mesin giling untuk menghasilkan potongan daun yang kecil. Kemudian diproses kembali dimasukan mesin penghalus. Agar menghasilkan butiran-butiran seperti pasir.

“Setelah jaji butiran pasir, kita pindahkan ke bak untuk kita timbun terlebih dahulu selama sebulan agar menjadi lembut. Kalau sudah lembut baru dicampur dengan kotoran kambing dan E4. Setelah itu kita tunggu sampai seminggu dengan ditutup menggunakan plastik,” terangnya.

Adapun pemasaran pupuk organik, sementara di event minggon jatinan, untuk melihat animo masyarakat. Jika banyak masyarakat yang berminat, baru kita pasarkan ke petani-petani yang membutuhkan pupuk organik.

“Hasil pupuk sendiri sebagai tambahan rejeki untuk teman-teman yang bekerja di sini (HKR, Red). Yang dari  pagi sampai sore  membersihkan dan menjaga Hutan Kota Rajawali ini,” ujarnya. (hms/all)