PARIS, Joglo Jateng – Iga Swiatek menyabet gelar juara French Open keduanya setelah mendikte petenis remaja Coco Gauff dalam final turnamen Grand Slam tanah liat itu, akhir pekan Minggu (5/6). Petenis pitri peringkat satu dunia ini mencatat kemenangan ke-35 berturut-turutnya.
Petenis 21 tahun itu menyapu lawannya dengan 6-1, 6-3 di Lapangan Philippe Chatrier hanya dalam waktu 68 menit. Dengan kemenangan ini, dirinya menyamai pencapaian monumental Venus Williams dalam mencatat kemenangan berturut-turut paling lama yang bisa dicapai seorang petenis putri pada abad ke-21.
Swiatek merayakan gelar keenam berturut-turutnya sepanjang tahun ini di tribun khusus pemain bersama sahabat dan keluarganya. Sementara Gauff yang terguncang duduk sendirian di kursinya sembari menangis setelah penampilannya yang gugup membuat dia melakukan 23 unforced error dan tiga kesalahan ganda.
Swiatek menjadi petenis putri ke-10 yang menjuarai French Open selama era Open. Dia hanya kehilangan satu set selama turnamen edisi ini. Yakni saat menghadapi petenis China Zheng Qinwen pada babak keempat. Dia kini sudah memenangkan ketiga pertemuannya dengan Gauff yang bermain dalam final Grand Slam pertamanya.
Mantan ratu tenis dunia Chris Evert sempat yakin Gauff adalah jenis petenis yang bisa menghentikan laju tak terkalahkan Iga Swiatek. Tapi yang terjadi di Lapangan Philippe-Chatrier di Roland Garrros, justru kebalikan dari apa yang diyakin Evert.
Swiatek, gadis dari Polandia justru tampil sangat dominan dengan menguasai segala sudut lapangan, di depan net, sampai belakang garis lapangan di baseline. Selama 68 menit, gadis penyuka musik heavy metal ini dengan mudah menaklukkan lawannya.
Komentator tenis NBC Maria Taylor berpandangan bahwa untuk menang berturut-turut selama itu, atlet harus kuat secara mental, tidak cuma siap fisik, selain harus berani tampil agresif. Swiatek melakukan semua yang disebut Taylor ini.
Swiatek yang baru pekan ini genap berusia 21 tahun kini sudah enam kali memenangkan gelar juara. Termasuk empat turnamen level 1000. Dia baru dinobatkan sebagai petenis putri nomor 1 dunia awal April lalu setelah mengumpulkan poin hampir dua kali lipat dari petenis terdekat peringkatnya dari dia.
“Yang Anda lakukan dalam tur beberapa bulan terakhir ini sungguh hebat dan Anda sungguh pantas mendapatkannya. Semoga kita berdua bisa sering saling berhadapan lagi dalam final dan saya bisa menang dari Anda suatu hari nanti,” kata Gauff yang menangis saat presentasi trofi usai laga.
Tatkala Swiatek tampil di Paris dua tahun silam, tak ada yang tahu siapa dia. Dia masuk arena dengan bekal peringkat 54 dunia. Tapi dia membuat semua orang terperangah sampai akhirnya menjadi juara di Paris untuk pertama kalinya.
Kurang dari dua tahun kemudian, Swiatek meninggalkan arena Paris dengan status kekuatan dominan dalam tenis putri saat ini. Dia digadang-gadang bakal semakin besar dalam tahun-tahun kemudian.

Pada diri dia, dunia tenis putri telah menemukan lagi atlet seperti Serene Williams yang pada masa jayanya begitu dominan di setiap jenis lapangan. Iga Swiatek makin terlihat seperti Serena, menjajah arena demi arena tenis.
Ngeri adalah rasa umum yang dialami lawan-lawan Swiatek akhir-akhir ini. Sampai Naomi Osaka si juara Grand Slam empat kali tak kuasa membayangkan harus langsung menghadapi Swiatek pada babak pertama turnamen di Paris itu.
“Syukurlah itu tak terjadi,” kata Osaka yang malah disingkirkan oleh petenis Amerika Serikat Amanda Anisimova pada babak pertama.
Penampilan bengis petenis Polandia itu tak hanya terjadi tahun ini. Karena pada French Open 2020 pun begitu, padahal waktu itu dia adalah petenis non unggulan.
Waktu itu, Swiatek tak membiarkan lawan-lawannya merebut lebih dari lima gim. Unggulan kedua saat itu, Simona Halep, dibabatnya dalam waktu satu jam dengan 6-1, 6-2 pada babak keempat. Pun Sofia Kenin yang saat itu juara bertahan Australian Open, yang bertekuk lutut 6-4, 6-1 dalam partai final. Dia pun menjadi petenis Polandia pertama yang menjuarai Grand Slam.
Meski demikian, Swiatek tak mau disebut sempurna. Dia justru mengaku masih harus berkembang dan malah lebih tertarik bermain konsisten sepanjang waktu. Ia menyebutkan, perubahan terbesar dalam dirinya adalah menjadi konsisten.
“Saya kira inilah yang sulit dilakukan dalam tenis putri. Itulah mengapa kami (tenis putri) punya begitu banyak juara baru Grand Slam. Karena kami tidak sekonsisten Rafa (Nadal), Roger (Federer) dan Novak (Djokovic). Itulah mengapa tujuan saya adalah menjadi konsisten,” kata Swiatek seperti dikutip laman ESPN.
Konsistensi itu pula yang membuat dia merasa memang pantas menyandang nomor satu dunia. Bukan karena mendapatkan limpahan status itu setelah Ash Barty yang saat itu menyandang peringkat satu dunia di atas Swiatek gantung raket Maret lalu.
Swiatek awalnya tidak nyaman. Namun setelah tahu dia bisa membuktikan diri memang pantas berada di tangga teratas tenis putri dunia, dengan tak pernah kalah sampai kini, dia tak lagi tak senyaman dulu. Kini dia merasa memang pantas ada di kursi itu.
“Saya kini merasa lebih bebas. Saya merasa telah membuktikan diri,” kata Swiatek. (ara/fat)










