BATANG, Joglo Jateng – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di seluruh institusi pendidikan digelar pada 11-13 Juli, dengan beragam materi yang dibalut permainan menarik. Tujuannya agar para peserta didik baru mengenal lebih dekat tempat yang akan dijadikannya menimba ilmu selama tiga tahun ke depan.
Dari banyaknya materi yang diberikan, edukasi seputar reproduksi menjadi topik paling menarik bagi siswa. Forum Anak Kabupaten Batang (FANTA) berupaya mengemas agenda MPLS itu dengan obrolan ringan ala remaja, sehingga jauh dari kata canggung dan tabu.
Wakil Ketua FANTA, Sukma Berlian Asri mengatakan, pihaknya memilih momentum MPLS untuk menyosialisasikan bahaya dari seks bebas hingga pernikahan dini. Hal itu dilakukan karena akan lebih mudah dipahami peserta didik baru.
“Di situ kami kasih tahu, bagaimana cara berteman yang baik, mengenal makna cinta secara benar, sehingga bisa meminimalkan pergaulan bebas,” katanya, dalam kegiatan FANTA Goes To School, di SMAN 2 Batang, Selasa (12/7).
Di sisi lain, ia juga menyikapi tentang peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan di beberapa media. Tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pendidik yang tidak bertanggung jawab kepada siswinya. “Saya juga sedikit khawatir terhadap guru laki-laki. Para guru harus bisa menjaga jarak atau batasan tertentu terhadap siswinya,” terangnya.
FANTA memandang fenomena pernikahan dini yang sempat meresahkan banyak kalangan, memerlukan pemahaman ekstra terhadap generasi pelajar. Sehingga pendidikan bisa dikedepankan demi masa depan yang lebih baik.
“Banyak faktor terjadinya pernikahan dini, misalnya dari keluarga mereka ada yang tidak utuh, orang tua yang kurang mendukung terhadap pendidikan anaknya, dari sisi ekonomi ada yang terdampak karena adanya Covid-19. Jadi ada sebagian dari mereka putus sekolah dan lebih memilih nikah dini,” jelasnya.
Menyikapi peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pendidik yang tidak bertanggung jawab, Kepala SMAN 2 Batang, Sugeng memandang perilaku itu dapat mencoreng nama baik institusi pendidikan. “Peserta didik baru juga sudah ditekankan bahwa sekolah ini ramah anak. Artinya tidak ada perundungan, perploncoan dan pelecehan seksual,” pungkasnya. (hms/abd)










