BANYUMAS, Joglo Jateng – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Qaryah Thayyibah Purwokerto (SMP QITA) berlangsung menarik. Pasalnya, MPLS di sekolah tersebut diisi dengan pengenalan budaya sekolah yang berwawasan lingkungan, yaitu Pengenalan dan Pelatihan Pengolahan Limbah Organik, Rabu (20/7).
Pada pelaksanaan MPLS tersebut, peserta tidak hanya terbatas siswa SMP QITA, melainkan juga siswa SD QITA. Kegiatan dilaksanakan di halaman sekolah yang terletak di Gg. Kampus, Jl. Desa Beji-Karangsalam, RT 05 RW 02, Karangsalam Kidul, Kecamatan Kedungbanteng.
Kepala SMP QITA, Tofik Hidayat melatih peserta tentang pemanfaatan limbah organik seperti sisa nasi, buah-buahan, atau sayuran sisa untuk diolah menjadi pupuk cair. Ia memberikan demonstrasi dan mengajak peserta untuk praktik secara langsung.
“Ada beberapa alat dan bahan yang perlu disiapkan terlebih dahulu. Seperti botol bekas, molases, cairan EM4, dan air. Limbah organik dicampurkan dengan bahan-bahan itu, lalu difermentasi selama sekitar sebulan. Selama seminggu sekali, botol dibuka untuk mengeluarkan gas agar tidak meletup,” jelasnya.
Pupuk cair hasil olahan diberi nama POCITA, akronim dari Pupuk Organik Cair Qita. Selain pembuatan POCITA, peserta juga diajari membuat eco brick dari sampah plastik dan pupuk kompos.
“Pupuk hasil produksi kita beri nama POSITA, sesuai dengan nama sekolah. Selain diajari membuat pupuk cair, siswa kami juga diajari membuat eco brick dari sampah plastik dan pupuk kompos, karena memang tujuan kami untuk mengenalkan budaya sekolah yang berwawasan lingkungan,” paparnya. (hms/abd)










