SEMARANG, Joglo Jateng – Penggunaan kurikulum merdeka belajar di sekolah telah dijalankan pada tahun ajaran baru 2022/2023 ini. Diketahui terdapat tiga pilihan kurikulum yang dapat dipilih dan digunakan oleh sekolah, yakni, mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi.
Sekretaris Direktur Jenderal (Sesditjen) Pendidikan Vokasi Wartanto mengatakan sesuai dengan namanya, kurikulum merdeka belajar maka satuan pendidikan diberikan kebebasan untuk memilih menggunakannya atau tidak. Hal ini dilihat dari kemampuan sekolah masing-masing.
“Yang terpenting di sini satuan pendidikan tersebut sudah bisa menetapkan sesuai dengan kondisinya,” jelasnya saat melakukan kunjungan kerja di SMP N 5 Semarang, Selasa (26/7).
Menurutnya, ada empat keunggulan kurikulum merdeka. Yakni lebih sederhana dan mendalam, lebih merdeka, lebih relevan dan interaktif, dan didukung platform merdeka. Nantinya anak-anak akan diberikan keleluasaan untuk memilih sesuai dengan bakat minat mereka.
“Tidak ada penjurusan seperti IPA dan IPS seperti dulu. Selain itu anak-anak pun antusias dan merasa senang dengan penerapan kurikulum ini. Mereka diajarkan untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah secara mandiri. Tugas guru hanya memberikan pendampingan. Mereka berkelompok, mendiskusikan pelajaran berkenaan dengan daily activity,” jelasnya.
Ia menambahkan, guru harus jeli dalam memberikan materi yang esensial. Guru juga bisa menjadi konten kreator sebagai bahan ajar. Bagi mereka yang belum bisa membuat konten secara mandiri. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah menyiapkan platform merdeka mengajar (PMM).
“Untuk guru sudah kami siapkan PMM semua materi ada di platform tersebut. Mereka bisa menggunakan untuk bahan ajar kepada peserta didik. Saat ini sebanyak 92 persen guru sudah login dan menggunakan PMM,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala Sekolah SMP N 5 Aloysius Kristiyanto mengaku sejak Maret telah menyiapkan pelatihan-pelatihan untuk menghadapi kurikulum merdeka belajar. Pihaknya memilih untuk menggunakan kurikulum mandiri berubah.
“Pada prinsipnya tidak ada kesulitan dalam proses pembelajaran. Tapi di kurikulum merdeka ini anak-anak diberikan kebebasan materi,” ungkapnya.
Selain itu, ada tambahan kegiatan kokurikuler untuk mewujudkan peserta didik yang memiliki profil pelajar pancasila. Misalnya dengan membuat majalah dinding, hidroponik, composting, dan beberapa program lain.
Disisi lain, kegiatan ini juga dihadiri oleh korsatpen dari seluruh kecamatan di Kota Semarang. Hadir juga perwakilan kepala sekolah yang harapannya mereka dapat memberikan pengetahuan kepada rekan di sekolah lainnya mengenai penerapan kurikulum merdeka. (luk/gih)










