BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan pemeriksaan Hemoglobin (HB) pada tahun 2022 kepada 700 siswi SMP di Bantul. Dari hasil tersebut, sebanyak 29 persen atau 203 siswi menderita anemia.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Siti Marlina mengatakan, pelaksanaan pemeriksaan HB dilakukan di tujuh sekolah yang berada di Bantul. “Kami telah melakukan pemeriksaan kepada 700 siswi SMP, dan ditemukan 203 siswi terkena anemia dengan HB di bawah 12. Ini hampir sama dengan anemia yang terjadi pada remaja dewasa pada umumnya,” ungkapnya saat diwawancarai Joglo Jogja, Senin (6/3/23).
Disebutkan bahwa kasus ini dipicu oleh asupan gizi yang kurang, seperti menu jajanan yang tidak diperhatikan. Sehingga kebutuhan menu pada setiap siswi ini kurang seimbang, serta siklus haid yang juga mempengaruhi.
“Kami harapkan siswa banyak mengonsumsi protein hewani. Karena banyak zat besi yang terkandung di dalamnya. Serta jika mengonsumsi sayur, harus porsi besar untuk kebutuhan zat besi. Namun kondisinya sekarang konsumsi sayur di tingkat rumah tangga sangat rendah, apalagi remaja,” tuturnya.
Dalam mengantisipasi hal tersebut, Dinkes melakukan skrining HB sebagai salah satu evaluasi program sekolah peduli kasus anemia (sepekan). Kegiatan itu dilakukan dengan pemberian tablet tambah darah pada siswi.
“Program sepekan ini sebetulnya sangat baik jika dilakukan dengan optimal. Namun dari tujuh sekolah tersebut, belum baik dalam pelaksanaannya. Sehingga kami mendorong untuk sekolah SMP dan SMA untuk memberikan tablet tambah darah kepada siswanya seminggu satu kali,” paparnya.
Ia juga mendorong pelaksanaan itu dilakukan dengan sarapan bersama, dengan gizi yang seimbang. Dikatakan bahwa pelaksaan ini butuh kerja sama serta komitmen dari pihak sekolah, supaya kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. “Kami terus mendorong kegiatan itu, salah satunya bekerja sama dengan Disdikpora Kabupaten Bantul,” tuturnya
Adapun bahaya anemia jika tidak langsung dilakukan penanganan, dapat mengganggu produktivitas pada saat sekolah, konsentrasi belajar akan terganggu. Karena HB akan membawa oksigen ke otak, maka kurang baik hasilnya jika makanan dan minuman yang dikonsumsi buruk.
“Ketika remaja putri menikah dan hamil, maka akan berisiko. Seperti pendarahan kepada ibunya, untuk anak yang dilahirkan memiliki berat badan rendah, serta berisiko stunting. Sehingga perlu adanya tambah darah yang diberikan untuk remaja, supaya dapat mencegah sejak dini,” imbuhnya. (cr4/abd)










