SEMARANG, Joglo Jateng – Data mengenai tingginya angka pengganguran di Jawa Tengah yang didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terus menjadi sorotan semua kalangan. Satuan pendidikan yang didalamnya terdapat pendidikan vokasi di mana siswa dipersiapkan memiliki skill justru menjadi penyumbang pengganguran terbesar.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah (Jateng) Uswatun Hasanah mengatakan bahwa data yang menyatakan hal itu tidak sesuai fakta di lapangan. Menurutnya, data tersebut hanya berasal dari data yang terlacak saat ini saja.
“Ketika dikatakan (SMK) sebagai penyumbang pengangguran terbesar, data itu adalah data yang menyandingkan antara jumlah lulusan SMK secara umum dengan jumlah SMK yang bekerja di dunia usaha atau dunia industri yang terlacak jejaknya,” katanya saat dihubungi melalui panggilan WhatsApp, belum lama ini.
Uswatun menyebut, banyak anak yang lulus dari SMK melanjutkan ke perguruan tinggi. Kemudian ada juga yang langsung bekerja, dan ada yang memantapkan diri untuk berwirausaha.
Namun data yang menyatakan hal tersebut belum ada karena tidak terlacak. Oleh karena itu, pihaknya berharap satuan pendidikan, khususnya SMK bisa menggejot tracer study, agar bisa mengetahui keberadaan alumninya saat ini.
“Banyak yang bekerja dan berwirausaha ini tidak terekam dalam jejaknya pula, dan kemudian ini kita berharap satuan pendidikan dalam hal melakukan tracer study benar-benar bisa melacak di mana lulusan dari SMK-nya itu saat ini berada, bekerja di mana dan lain sebagainya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Uswatun mengaku, faktor usia turut menjadi masalah banyaknya anak SMK tak bisa langsung bekerja. Pasalnya mayoritas dari lulusan SMK belum berusia 18 tahun yang apabila mereka bekerja akan pelanggar undang-undang ketenagakerjaan.
“Kemudian lulusan SMK itu mayoritas itu belum berusia 18 tahun, dan kalau bekerja itu melanggar undang-undang ketenagakerjaan, sehingga ketika lulus bekerja itu kondisinya berbeda, ketika anak-anak lulusnya usia 18 tahun, usia 18 tahun itu biasanya untuk SMK-SMK yang sampai kelas 13 atau SMA-nya selama 4 tahun,” paparnya.
Oleh karena itu, Dsdikbud berharap dengan adanya tracer study akan memudahkannya untuk mengetahui posisi anak-anak ketika sudah lulus SMK. Uswatun berharap anak-anak SMK ini banyak yang bisa menggapai apa yang dicita-citakan baik yang kuliah, baik yang bekerja, ataupun berwirausaha.
“Tentu saja dengan di dalamnya mempunyai mental yang tidak mudah menyerah dalam kondisi dunia kerja. Karena yang dibutuhkan sebenarya tidak hanya hard skill saja tapi soft skill, mentalnya harus benar-benar bisa menghadapi perubahan situasi dunia sekolah dan dunia kerja yang sangat berbeda,” tutupnya.
Sebagai informasi, sebelumnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng mencatat lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) memiliki angka pengangguran tertinggi. Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 8,42 persen lulusan SMK tahun 2022 di Jateng menganggur. (luk/gih)










