Masjid Agung Demak, Simbol Kekuasaan Ilahiyah Raja Jawa

Masjid Agung Demak
INDAH: Tampak Depan Masjid Agung Demak,. Masjid ini memiliki perpaduan arsitektur dari budaya Hindu-Buddha yang dimodifikasi dengan nuansa Islam. (AJI YOGA / JOGLO JATENG)

DEMAK – Masjid Agung Demak menjadi salah satu bukti sejarah bagaimana kuatnya dakwah Islam di pesisir utara pulau jawa. Arsitektur masjid dibangun dengan mengikuti bangunan keramat dari tradisi Hindu-Buddha yang dimodifikasi dengan nuansa Islam. Hal tersebutlah yang menghasilkan narasi kekuasaan ilahiah para raja tanah Jawa.

Raja dan masjid di Jawa kala itu dianggap sebagai pusat dari perantara langsung kebesaran Tuhan di muka bumi. Dalam pandangan Islam, posisi sentral tidak hanya ada pada seorang raja yang tinggal di istana. Munculnya masjid sebagai pusatnya dapat dipahami sebagai keadilan universal di dunia Islam dengan mempertimbangkan kebudayaan Islam sebagai simbol keberadaan Tuhan.

Pengurus Takmir Masjid Agung Demak dan Pengelola Makam Kasultanan Demak,  Wagiyo mengatakan, Masjid Agung Demak selalu ramai dikunjungi. Bukan hanya orang Islam yang datang untuk beribah di masjid dan berziarah ke makam para sultan. Banyak juga wisatawan non Islam dan bahkan mancanegara yang berkunjung.

“Biasanya mereka datang untuk menjadikan artefak-artefak di masjid dan museum sebagai objek penelitian atau hanya sekedar berwisata saja,” tuturnya saat di temui di Kantor Takmir Masjid Agung Demak, Kamis (21/1).

Ia juga mengatakan, Masjid Agung Demak telah beberapa kali dilakukan renovasi karena adanya perbaikan pada bangunan-bangunan yang rusak. Namun artefak-artefak dan benda-benda lain yang tidak dipakai kembali, tersimpan rapi di museum masjid.

“Semua artefak masih ada, bagi wisatawan yang datang ke sini, tidak hanya bisa ziarah atau beribadah di Masjid saja, tapi juga bisa menikmati ornamen-ornamen yang menjadi saksi penyebaran Islam di tanah Jawa ini,” paparnya.

Adanya pencampuran budaya Hindu-Budha dan Islam telah menjadikan bangunan masjid tersebut semakin indah untuk dipandang. Seperti bangunan atap memiliki bentuk atap berundak (bertingkat) tiga, perwujudan akulturasi bangunan agama Hindu yang menjadi mayoritas pada saat itu.

Dalam agama Islam, bangunan tersebut mencerminkan 3 konsep kehidupan bagi pemeluknya. Yakni Islam, Iman dan Ikhsan.

Selain itu ada juga Pintu Bledeg atau pintu anti petir. Pintu tersebut terbuat dari kayu jati berhias ukiran-ukiran apik dan bergambar dua kepala naga. Namun pintu tersebut kini telah dipindah ke Museum Masjid Agung Demak.

Seperti pantauan Joglo Jateng kemarin, bangunan Masjid Agung Demak memiliki empat tiang penyangga utama yang disebut Soko Guru. Tiang tersebut terbuat dari kayu jati yang dipercayai masyarakat peninggalan dari empat anggota Wali Songo. Yakni Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga.

Menariknya dari salah satu tiang tersebut terbuat dari serpihan kayu yang disatukan sehingga membentuk tiang yang disebut Soko Tatal. Peninggalan Sunan Kalijaga.

Soko Guru di Masjid Agung Demak memang tak sepenuhnya asli. Sebab beberapa bagian yang rapuh dipotong dan digantikan yang baru, sebagian lain bisa dijumpai di Museum Masjid Agung Demak.

Adanya komplek makam Kasultanan Demak juga menjadi hal menarik sendiri bagi para pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Oleh karena itu, Masjid Agung Demak dan kompleks makam para raja tidak pernah lengang dari para peziarah yang ingin mencari keberkah. (cr3/fat)