Imbas PPKM, Pengusaha Angkot Gulung Tikar

  • Bagikan
PARKIR: Angkutan kota (angkot) sedang parkir di pertokoan Kebondalem Purwokerto, Selasa (4/8). (NR SIDIQ./JOGLO JATENG)

PURWOKERTO, Joglo Jateng – Semenjak diberlakukan aturan PPKM darurat sampai dengan diperpanjang menjadi PPKM Level 4, banyak sektor yang mengalami kesulitan beraktifitas. Salah satu yang terkena imbas yaitu angkutan kota (angkot) yang mengalami kesulitan menjalankan operasional karena jalan yang dilewati ditutup.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Banyumas, Sugiyanto mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi yang ada.  Menurutnya, kebijakan PPKM sudah mematikan pendapatan pengusaha angkutan.

“Dari dulu ingin protes, tapi mau protes sudah begitu aturannya. Keadaan sudah begini yang jelas kami tiarap semua. Kami benar-benar kebingungan karena tidak mendapatkan hasil dari angkutan tersebut,” terangnya saat ditemui, Selasa (4/8).

Ia mengatakan banyak pengusaha angkutan di Banyumas yang akhirnya gulung tikar dan memilih usaha lain. Lalu, kata dia, sebagian besar jenis angkutan sudah banyak yang memlih mundur teratur.

Baca juga:  Kasus Tetap Tinggi, PPKM Disosialisasikan hingga Perbatasan

“Jenis angkutan yang gulung tikar seperti angkot taksi dan koperades. Terlepas dari matinya pendapatan dari usaha angkutan, sebagian pengusaha angkutan tidak mutlak bekerja di angkutan saja, sebagian memiliki kerja sampingan misalkan petani atau usaha lainnya,” ungkapnya.

Menurutnya, jika PPKM terus diperpanjang dan penyekatan terus dilakukan bukan tidak mungkin angkutan di Banyumas benar-benar akan hilang. Sebenarnya, kata dia, hal itu tidak diinginkan semua orang, namun keadaan yang memaksa hal tersebut.

“Sebelum ada PPKM angkutan wisata bisa Rp 125 ribu per hari, dari dulu pas awal pandemi empat bulan berhenti karena pelarangan wisata terus turun paling Rp 45 ribu per hari. Sekarang ditutup lagi wisata, ya jelas tidak ada pemasukan sama sekali hal tersebut benar-benar mematikan pendapatan kami,” tutupnya. (cr9/git)

 

  • Bagikan