SEMARANG, Joglo Jateng – Dalam tradisi Jawa, mencuci keris atau benda pusaka lain menjadi salah satu tradisi yang rutin dilakoni, khususnya di bulan Suro. Untuk itu, pada bulan pertama penanggalan Jawa ini, jasa pencucian atau penjamasan keris kebanjiran order meski berada di tengah pandemi.
Ndaru Handoko Aji (51), salah seorang penjamas keris mengatakan, bulan Suro bagi sebagian orang dianggap sebagai bulan yang suci. Ia mengaku ada sekitar 500 keris yang akan dijamas pada bulan Suro tahun 2021 yang jatuh dari tanggal 10 Agustus hingga 10 September.
“Menurut kepercayaan tradisi Jawa, termasuk Solo Keraton, Jogjakarta, Jateng dan sekitarnya, setiap bulan Suro itu bulan yang paling suci. Keris, pedang, tombak memang disucikan. Bukan berarti suci lho. Karena memang dulu waktu membuatnya empu juga melakukan tirakat dan pantangan tertentu. Jadi keris itu untuk orang jawa yang punya tradisi, termasuk benda yang disucikan,” ucapnya ketika ditemui Joglo Jateng di kediamannya di Jalan Batan Timur Raya Nomor 44, Miroto, Semarang Tengah, Selasa (10/8).
Ndaru, sapaan akrabnya, mengaku jumlah yang ia terima tahun ini meningkat dari jumlah sebelumnya yang hanya 200 hingga 300 pusaka. Adapun harga yang dipatok untuk satu pusaka adalah Rp 50.000.
“Perkiraan saya nanti sampai selesai bulan September hampir lebih 500 keris. Mungkin orang di samping problem ekonomi, mungkin kalau orang jawa untuk mengusir korona. Ada yang percaya gitu. Justru ekonomi gini jatuh, justru dukun-dukun, jimat-jimat laris. Kondisinya supaya bangkit lagi. Aneh itu orang kalau kepercayaan suka gitu,” ungkapnya.
Pemakai jasa Ndaru Keris, lanjutnya, adalah pelanggan yang sudah turun temurun. Meskipun tak jarang juga pengagum keris baru juga memakai jasa penjamasan di tempatnya.
“Ada yang sudah menjadi langganan turun temurun, dari bapak ke anaknya. Ada juga yang bapaknya meninggal, anaknya ada yang tidak ngurusi (penjamasan keris). Mereka (pelanggan) ada dari Demak, Purwodadi, Kendal, Tegal, Jepara dan lain-lain. Luar Jawa, Kalimantan juga ada,” jelasnya.
Adapun prosesi penjamasan, terangnya, dilakukan dengan membuka warangka keris dari pegangannya. Setelah itu, keris harus direndam dalam air kelapa agar karatnya keluar. Karat tersebut lantas disikat dan diberi jeruk nipis dan sabun. Proses perendaman ini terus diulang hingga semua karat keluar atau hingga pamor (tulisan empu) terlihat. Setelahnya, keris lalu dibilas dengan air kembang untuk kemudian dikeringkan.
“Satu keris kadang kalau karatnya lumayan, bisa 3-4 hari. Memang prosesnya sebenarnya sulit. Apalagi kalau bisa njamas keluar gambar atau pamornya ini, satu keris kadang bisa sampai satu jam,” terangnya.
Selain jasa penjamasan, Ndaru menjelaskan bahwa pihaknya juga menerima jasa perawatan, perbaikan, pembuatan warangka atau tempat keris, hingga konsultasi pusaka. Profesi ini ia lakoni turun temurun dari sang ayah.
“Saya turun temurun, generasi kedua dari ayah. Saya dari kecil, nggak ada kerjaan lain sampai tua. Jadi saya kalau tidak bulan Suro juga tetap menerima. Ada tiap hari. Kalau Suro saya memang lebih kerepotan,” tandasnya. (cr12/gih)










