Peran Guru BK bagi Siswa Korban Bullying

Oleh:  Sri Kustianingsih S.Pd
Guru BK SMAN 1 Mranggen, Kab. Demak

BULLYING merupakan perilaku agresif yang sangat berbahaya bagi siswa yang mana melibatkan kekuatan yang tidak seimbang antara pengganggu dan yang  terintimidasi. Bullying terjadi dimana-mana. Faktor bullying menurut Oshako menyebutkan bahwa kekerasan disebabkan lima faktor penting, yaitu ekonomi, keluarga, sekolah, sosial, politik dan individu itu sendiri tidak memandang usia anak-anak, remaja dan dewasa. Banyak alasan yang menjadi bahan bully, misalnya perilaku agresif dan minimnya rasa simpati dan empati terhadap orang lain, kecenderungan tidak bermoral karena moral berkaitan dengan niat, motif, maksud dan tujuan berbuat.

Tolak ukur moral untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan anak dilihat dari segi baik buruknya yang dilakukan anak. Selain itu, permasalahan psikis pembuli merupakan faktor mendukung untuk seseorang melakukan pem-bully-an. Dalam proses humanisasi berlangsung seseorang yang terintimidasi teman-temannya, biasanya siswa yang menjadi korban bully bertipe introvert. Siswa dengan tipe ini kurang terbuka, kurang percaya diri, dan kurang bisa menyesuaikan diri. Fenomena tindakan bullying yang terjadi di sekolah sangat memprihatinkan bagi guru, orang tua, dan masyarakat. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat peserta didik menimba ilmu dan mengembangkan potensinya berubah menjadi tempat yang menakutkan.

Bullying dapat berupa fisik, verbal, relasional/sosial. Ada beberapa konsekuensi negatif yang signifikan, kesejahteraan psikologis yang rendah (Low PsychoLogical Well-Being) siswa korban bullying akan merasa tidak nyaman, takut, rendah diri, serta tidak berharga. Penyesuaian sekolah yang buruk dimana korban merasa takut sekolah.

Dalam jurnal konseling yang dilaksanakan oleh Rijda Eltiah, tertera bahwasanya untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu diharuskan berintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya, yaitu Bidang Administratif dan kepemimpinan, Bidangnya Instruksional kurikuler, dan Bidang Pembinaan peserta didik (Bimbingan dan Konseling yang memandirikan). Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan pengajaran dengan mengabaikan bidang pembinaan mungkin hanya akan menghasilkan individu yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, namun kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek psiko-sosio-spiritual agar anak mampu terentaskan dari permasalahan bullying.

Dalam permasalahan bullying di sekolah seorang guru BK harus ada upaya-upaya bimbingan dan konseling penanganan yang bersifat urgen yang terintegrasi dan berkelanjutan, seorang guru pembimbing harus intensif dan interaktif dalam menjalin komunikasi yang efektif dengan siswa kalau bisa jemput bola berbaur dengan siswa saat jam-jam kosong dan istirahat.

Guru BK bisa menggunakan metode dan pendekatan dalam konseling misalnya menggunakan pendekatan eklektik yaitu suatu pendekatan yang terintegrasi seperti pendekatan perilaku, pendekatan yang bersifat pada pribadi, pendekatan transaksi analisis, humanistik dan sebagainya.selain pendampingan psikologis, perlu juga ada pendampingan keamanan serta memastikan bahwa sekolah tempatnya belajar menerima dia dan tidak melakukan bullying terhadapnya. Tujuan akhir pendampingan dari psikologis atau konselor adalah agar siswa tidak merasa menyandang label korban melainkan sebagai penyintas, bahwa dia adalah pemenang yang telah berhasil melewati kejadian itu, artinya dia bisa pulih serta menjalani hidup dengan baik setelah melewati kejadian tidak menyenangkan.

Dalam penanganan bullying di sekolah harus secara intern, bukan hanya peran guru BK saja tapi perlu adanya kerjasama dengan melibatkan guru, peserta didik, orang tua, peserta didik, dan komunitas di lingkungan sekolah dengan membuat program peaceful school. Karena sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa maka keamanan secara fisik dan psikis sangat mutlak diperlukan bagi siswa, agar perkembangan siswa menjadi lebih baik menjadi pribadi yang lebih berkualitas, siswa juga dapat mengembangkan potensinya dengan maksimal dibimbing oleh oleh guru BK, guru mata pelajaran, serta warga sekolah yang lain. (*)