Oleh: Titiek Insaniarti, S.Pd.I
Guru SDN 01 Pamutih, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang
DALAM implementasi kurikulum 2013 yang saat ini berlaku terdapat model-model pembelajaran yang diharapkan pemerintah bisa menggali daya kreasi, ketelitian atau berpikir kritis, serta inovasi peserta didik diantaranya adalah model pembelajaran discovery (discovery learning), pembelajaran berbasis proyek (project base learning), serta pembelajaran berbasis masalah (problem base learning). Model pembelajaran menurut Agus Suprijono (2009) ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
Pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PABP), khususnya pada jenjang pendidikan sekolah dasar, terdapat materi membaca Al-Quran. Yang menjadi masalah adalah bagaimana penerapan model pembelajaran tersebut pada materi membaca Al-Quran pada muatan pelajaran PABP.
Salah satu metode pembelajaran yang disebutkan di atas adalah metode discovery learning. Dalam metode discovery learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan, bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan. Menurut Syaiful Sagala (2006), pendekatan discovery learning dalam pembelajaran dapat lebih membiasakan kepada anak untuk membuktikan sesuatu mengenai materi pelajaran yang dipelajari.
Berikut ini langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas sesuai dengan buku panduan model-model pembelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah. Langkah persiapan bagi guru untuk metode discovery learning sebagai berikut. a) Menentukan tujuan pembelajaran. b) Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya). c) Memilih materi pelajaran. d) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi). e) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa. f) Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik. g) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
Langkah-langkah model pembelajaran discovery seperti disampaikan di atas mengindikasikan bahwa peserta didik ditampilkan materi tidak secara utuh, pendidik harus mampu memberikan stimulus agar apa yang disampaikan pendidik dengan materi yang tidak utuh. Pada akhirnya, peserta didik dapat menemukan sendiri apa yang masih menjadi misteri karena tidak disampaikan guru secara utuh. Pada saat proses mengamati, guru harus menampilkan beberapa video/gambar yang terkait dengan contoh bacaan Al-Quran. Dilanjutkan dengan membuka sesi tanya jawab untuk mengetahui ketelitian peserta didik dalam memahami tayangan atau tampilan yang telah diamati.
Berikutnya, tugas peserta didik adalah mendiskusikan materi untuk mencapai indikator dari kompetensi dasar pengetahuan. Pada langkah mengeksplorasi dan eksperimen inilah discovery berjalan, yaitu dengan memberi tugas peserta didik menentukan hukum tajwid yang ada pada bacaan dan mengetahui cara membacanya. Pencarian ini hendaknya diberi porsi waktu yang lebih agar peserta didik bisa menemukan sendiri apa yang menjadi tugasnya, serta berlatih menirukan contoh bacaan yang bisa ditiru melalui media sesuai saran guru. Pendidik bisa memberi bimbingan atau tuntunan buku apa saja yang bisa dibaca dan didiskusikan yang terdapat isi tentang bacaan Al-Quran yang benar. Di sinilah model discovery yang dimaksud, dimana peserta didik diberi stimulus, dan secara berkelompok menemukan sendiri apa yang menjadi bahan diskusi, dan pada akhirnya peserta didik menyimpulkan sendiri temuannya, disajikan di depan kelas serta agar keterampilannya tercapai, dan memperagakan bacaan Al-Quran.
Setelah penerapan metode discovery learning, pada peserta didik kelas 4 SDN 01 Pamutih terdapat peningkatan keaktifan serta peningkatan hasil belajar peserta didik. Hal ini terlihat dari tingkat partisipasi peserta didik selama proses pembelajaran discovery learning dan nilai rata-rata yang semakin baik. (*)










