DEMAK, Joglo Jateng – Masjid Agung Demak kembali mengelar acara Megengan setelah dua tahun tradisi tersebut tidak dilaksanakan karena Covid-19. Acara yang dipercaya merupakan salah satu tradisi peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga itu, berlangsung meriah pada sore akhir pekan lalu.
Turut hadir dalam Megengan, yakni Bupati Demak, Kapolres Demak, Kepala Kemenag Demak, Kepala Dinas Pariwisata, dan sejumlah pejabat lainnya.
Takmir Masjid Agung Demak, Abdullah Syifa’ mengatakan, kegiatan Megengan kali ini digelar dalam skala kecil dan digelar internal oleh Takmir Masjid Agung Demak. Ia menyampaikan rasa syukurnya karena acara Megengan kali ini berjalan lancar tanpa ada halangan apapun.
“Alhamdulillah kegiatan demi kegiatan telah berjalan sesuai rencana. Memang sementara ini kegiatan ini kami batasi yaitu di dalam area masjid. Ini merupakan pertimbangan kami karena masih dalam suasana Covid, karena saat ini dinas pariwisata pun juga tidak mengadakan, jadi kita tetap batasi,” ungkapnya.
Syifa’ menambahkan, antusias masyarakat Demak sangat luar biasa. Hal itu terbukti dengan dipenuhinya halaman Masjid Agung Demak oleh masyarakat yang ingin menonton kemeriahan acara Megengan. Ia mengatakan, pihaknya berencana akan menambahkan penampilan kesenian budaya untuk acara Megengan yang akan datang.

“Peminatnya banyak sekali ternyata, saya anggap berhasil dan sukses. Insyaallah besok akan dikembangkan dengan menambahkan seni-seni lainnya agar lebih meriah. Akan diperluas lagi kalau nanti memang Covid betul-betul sudah tidak ada,” jelasnya.
Diketahui, dalam bahasa Jawa Megengan atau Tumegeng berarti menahan. Megengan sendiri memiliki makna menahan diri atau digambarkan seperti berpuasa yang menahan lapar, dahaga dan nafsu.
“Artinya saatnya kita untuk menahan atau imsak, menahan tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan kegiatan yang melanggar aturan syariat yang membatalkan puasa,” papar Syifa’.
Sementara itu, bentuk acara kemeriahan pada acara Megengan merupakan sebuah wujud rasa senang untuk menyambut bulan Ramadan dan mengikuti puasa Ramadan.
“Untuk mencapai kesitu kita bersyukur kepada Allah, masih diberi umur, masih dikasih kesempatan untuk mengikuti bulan Ramadan. Selanjutnya ini merupakan rasa bahagia kita karena datangnya bulan Ramadan” ungkapnya.
Acara Megengan itu juga dimeriahkan dengan banyaknya penjual yang berjualan aneka kuliner tradisional. Selain dipenuhi para pedagang makanan, diacara Magengan juga diisi seni hiburan rakyat, di antaranya penampilan Marching Band, musik angklung dan rebana dari MTs NU Demak. Juga tausiah Ramadan dan do’a bersama oleh KH. M. Asyiq serta penampilan rebana Remaja Masjid Agung Demak kemudian dilanjut oleh seremonial tabuh bedug. (cr3/gih)










