IKA Septi Annisa, ia adalah gadis lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Awal mulanya, orang tua menginginkannya menjadi seorang dokter umum. Namun, ia merasa belum mampu untuk belajar kedokteran, hingga akhirnya ia memilih menjadi dokter hewan.
Meski demikian, gadis kelahiran Sleman, September 1997 ini tetap berjuang untuk mencapai IP dengan nilai memuaskan. Sebab, terdapat mata kuliah dengan banyak hafalan dan hitungannya.
“Lebih ke senang soalnya perjuangan banget masuk kedokteran hewan, meski ada susahnya apalagi kejar IP bagus. Banyak hafalan, ada hitungannya, apalagi matkul biostatiska sama epidemiologi,” ujarnya.
Selain banyaknya hafalan, dokter hewan juga harus dituntut untuk pandai melakukan analisa. Terutama jika hewan tersebut bergejala suatu penyakit.
“Kadang tuh ditanya, pasienmu ga bisa bicara. Tapi kamu kok tahu penyakit dan penyebabnya?” paparnya.
Gadis yang juga hobi bermain piano ini membagikan pengalamannya saat belajar. Ia bahkan sempat dimarahi oleh dosennya, lantaran kesalahannya. Ia melaporkan hasil kerja dengan selembar kertas hingga tiga kali pengulangan, terlebih saat waktunya mendekati deadline seminar.
“Aku pernah dimarahin dosen sampai nangis. Soalnya menyimpang dari peraturan, salah tanam bakteri dan format laporan juga salah. Sampai laporan hasil kerja yang selembar itu nulis pengulangan sampai tiga kali,” paparnya.
Akan tetapi, ia tetap semangat untuk meraih gelarnya. Ia tetap mencari bahan belajar dan sempat tidur tiga hingga empat jam dalam sehari.
Banyak pengalaman yang ia peroleh saat menduduki bangku perkuliahannya. Pengalaman yang paling tidak terlupakan menurutnya ialah saat ada praktikum.
“Pernah boncengin anjing buat praktikum terus dipipisin dan anjingnya BAB di motor. Mandi tanah habis itu deh,” ucapnya sambil tertawa.
Ika berpesan kepada pemelihara hewan agar menjaga hewan peliharaannya dengan baik. Ia mengibaratkannya seperti anggota keluarga sendiri.
“Memelihara hewan, baik hewan ternak ataupun kesayangan butuh dari hati dulu, ibarat memelihara anggota keluarga. Kalau peliharaan kita sakit, sudah saatnya untuk diobati, karena memelihara hewan adalah komitmen seumur hidup,” jelasnya. (ers/bid)










