KUDUS, Joglo Jateng – Kasus Tuberkulosis (TBC) terus menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus. Hal itu dikarenakan, dari total 10.995 terduga kasus TBC, baru 2.086 orang yang dilakukan pemeriksaan standar pelayanan minimal (SPM), atau sekitar 18,97% dari total terduga kasus tahun ini.
Kepala DKK Kudus Badai Ismoyo, melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Nuryanto menyebutkan, pihaknya akan terus berupaya untuk meningkatkan capaian SPM di Kota Kretek. Dengan demikian, kasus TBC dapat segera terkonfirmasi dan DKK bisa melakukan penanganan untuk mencegah penyebaran kasus lebih lanjut.
“Jadi SPM itu semacam rapor bupati, dan harus mencapai 100% dalam satu tahun. Tahun lalu kita memang tidak maksimal, karena pandemi Covid-19. Jadi masyarakat banyak yang takut ketika akan diperiksa. Untuk tahun ini, dari perkiraan 2.143 kasus TBC yang terjadi di Kudus, baru terkonfirmasi 585 kasus,” jelasnya

Pemegang Program TBC DKK Kudus Andi Purwono menambahkan, pihaknya telah membuat nota kesepakatan dengan klinik dan dokter praktik mandiri (DPM) untuk mendukung peningkatan capaian SPM. Sehingga, kasus TBC di Kota Kretek dapat segera teridentifikasi.
“Untuk meningkatkan capaian SPM, kita punya program District Public Private Mix (DPPM). Jadi kita menggandeng klinik dan swasta untuk membantu menangani atau menemukan TBC. Tujuannya ketika ditemui suspect atau terduga TBC, dapat segera dilaporkan ke puskesmas. Karena pelaporannya masih harus link dengan puskesmas,” terangnya.
Andi menjelaskan, pengobatan TBC secara keseluruhan dibiayai oleh pemerintah. Dengan catatan, pasien yang ditangani harus mengikuti pengobatan secara terprogram dan menyeluruh. Sehingga, DKK dapat terus memantau perkembangan serta melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya penularan TBC lebih lanjut.
“Pengobatan TBC itu gratis kalau ikut program dari puskesmas. Jadi masyarakat bisa periksa ke dokter dan akan diminta mengeluarkan dahaknya, untuk kemudian diperiksa ke laboratorium yang memiliki Tes Cepat Molekuler (TCM). Jika terdeteksi bakteri penyebab TBC, orang itu akan diberikan program pengobatan gratis,” ungkapnya
Selain itu, ketika ada pasien yang memiliki anak-anak di rumahnya, anggota keluarga tersebut harus diberikan terapi pencegahan. Karena penularan TBC pada anak dapat menimbulkan TBC laten.
“Jadi bisa saja sebenarnya anak sudah tertular atau terinfeksi, tetapi bakteri masih belum mati dan memasuki masa dormansi. Itu yang kemudian menjadi TBC laten, yang mana ketika tertular itu anak-anak tidak memiliki gejala, tetapi lima sampai sepuluh tahun kemudian bisa muncul gejalanya,” jelas Andi.
Saat ini, Kudus memiliki empat fasilitas kesehatan (faskes) yang memiliki TCM. Yakni RSUD Loekmonohadi, Puskesmas Jekulo, Puskesmas Kaliwungu, dan Puskesmas Gribig. Namun demikian, pemeriksaan bisa dilakukan di mana saja, sebelum nantinya dirujuk ke empat faskes tersebut.
Sebagai langkah antisipatif pencegahan penularan TBC, masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter atau faskes ketika terjadi gejala TBC. Staf Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) DKK Kudus dr. Amirati menjelaskan, terdapat tiga gejala utama terjadinya penyakit TBC. Yakni batuk berkepanjangan, penurunan nafsu makan, dan keringat dingin di malam hari.
“Gejala batuk itu bisa berdahak, dan terkadang kalau sudah parah dahak juga bercampur dengan darah. Batuk ini biasanya berlangsung dua minggu lebih. Kemudian nafsu makan menurun yang otomatis akan mengakibatkan penurunan berat badan. Kemudian pada malam hari muncul keringat dingin, walaupun tanpa aktivitas,” paparnya.
Sedangkan untuk penularan TBC, dr. Amirati menjelaskan bahwa penularan utama TBC adalah melalui droplet. Sehingga, penerapan protokol kesehatan merupakan faktor penting untuk mencegah terjadinya penyebaran kasus.
“Untuk penularan TBC sebetulnya persis seperti Covid-19. Mungkin kalau hanya sekadar berbicara seperti biasa, itu potensi terjadinya penularan bisa dikatakan rendah. Akan tetapi kalau batuk, droplet yang keluar tentu semakin banyak dan meningkatkan potensi penularan. Kemudian yang paling kuat itu bersin, karena pancaran droplet yang keluar akan semakin banyak,” kata Ami.
Oleh karena itu, penyebaran kasus TBC sangat tertolong dengan adanya penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker. Karena bisa meredam penyebaran kasus, khususnya di Kota Kretek. (abd/fat)










