Dukung Obat Tradisional Masuk Fitofarmaka

Kepala Dinkes Jateng, Yunita Dyah Suminar. (HUMAS / JOGLO JATENG)

SURAKARTA, Joglo Jateng – Dalam memperingati Hari Pancasila, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah membuat gerakan jamu, obat herbal tersandar (OHT) fitofarmaka dan sumber pangan lokal. Gerakan ini dideklarasikan di RSUD Bung Karno Surakarta, Kamis (9/6).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yunita Dyah Suminar menjelaskan, prinsipnya pada peringatan Hari Pancasila itu yakni, bertemakan Tri Bakti antara lain mandiri ekonomi, mandiri politik, dan mandiri budaya.

Selamat Idulfitri 2024

Menurutnya, kemandirian tersebut salah satunya adalah bagaimana mempertahankan ketahanan kesehatan. Misalnya, penyediaan obat-obatan maupun alat kedokteran dari  produk asli Indonesia.

“Pencangan ini sebuah gerakan bahwa kita mempunyai potensi besar sumber daya yang bisa digalakkan untuk kemandirian budaya maupun ekonomi. Jika bicara jamu, kultur yang sudah terbangun lama, harus dilestarikan. Kemudian, jamu ini bisa dijadikan sebagai suplemen kalau obat itu kan terapi,” jelasnya saat dihubungi Joglo Jateng.

Baca juga:  Pemkot Semarang akan Benahi Crossing Drainase Flyover Madukoro

Pihaknya mendorong obat-obatan tradisional bisa masuk ke fitofarmaka melalui uji klinis. Sehingga bisa digunakan rumah sakit atau puskesmas. “Mendorong obat-obatan tradisional jamu herbal itu bisa menjadi fitofarmaka melalui uji klinis,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Surakarta, Teguh Prakosa mengatakan, pihaknya menyambut dan mendukung pencangan jamu OHT fitofarmaka dan sumber daya pangan lokal.  Ia menyampaikan, Kota Surakarta merupakan kota yang didapuk sebagai The City Of Java Wellness Tourism atau kota kebugaran atau wisata kebugaran. Harapannya, pengembangan serta pemanfaatan potensi kesehatan yang terkandung dalam jamu fitofarmaka dan sumber pangan lokal menjadi Kota Solo sebagai The City Of Java Wellness.

“Hal ini didorong oleh kepedulian masyarakat pentingnya menjaga kesehatan baik fisik, mental, emosional, spritual, bahkan sosial. Sekarang masyarakat mulai perhatian,” ujarnya.

Baca juga:  Jembatan Kaligawe Bisa Difungsikan saat Mudik Lebaran

Menurutnya, dorongan tersebut muncul karena adanya gerakan back to nature. Adapun yang melatar belakanginya adalah perubahan lingkungan pada hidup masyarakat dan perkembangan penyakit yang telah menjadi tren masyarakat.

“Jamu tradisional yang dipercaya lebih aman sebagai alternatif tidak hanya masyarakat di pedesaan saja, tetapi konsumsi masyarakat yang tinggal di perkotaan,” katanya.

Teguh berharap, potensi bahan obat di Indonesia, khususnya di Jateng yang sangat melimpah ini bisa dikembangkan masuk ke rumah sakit atau puskesmas. “Semoga potensi bahan obat Indonesia melimpah dapat terus dikembangkan kemandirian farmasi melalui obat tradisional,” ucapnya.

Sementara, Sekretaris Jateng Sumarno menyebut, potensi sumber daya obat di Jateng luar biasa. Namun sayangnya, masyarakat sekarang ketika sakit serba datang ke puskesmas atau rumah sakit, tidak diatasi dengan obat herbal maupun jamu.

Baca juga:  Bappeda Dorong Penguatan Kelembagaan & Penyelesaian Sengketa Informasi melalui FGD

“Menurut saya, hal ini karena kurang kepedulian terhadap obat tradisional. Padahal, sebetulnya orang tua atau mbah-mbah kita dulu jarang ke rumah sakit atau puskesmas. Justru lebih cenderung memanfaatkan sumber pengobatan tradisional yang ada di sekitar rumah,” ucapnya.

Sumarno mengatakan, masyarakat kembali sadar ketika wabah Covid-19 melanda di wilayah Indonesia. Tiba-tiba, masyarakat berbondong-bondong untuk menggunakan jamu tradisional.

“Baru Covid kemarin, kayaknya kita tersadar kembali ke itu lagi (jamu). Sehingga memulai lagi ingat potensi yang ada, seperti minum jahe yang disajikan selama ini. Hal itu terjadi saat corona banyak dikonsumsi masyarakat kita. Jadi, corona juga membawa hikmah, “katanya.

Menurutnya, hikmah corona bahwa masyarakat sadar bahwa Indonesia, khususnya Jateng miliki obat tradisional atau herbal dianggap lebih aman dibandingkan obat kimia. (dik/gih)