KUDUS, Joglo Jateng- Meningkatkan literasi masyarakat Indonesia khususnya pelajar penting untuk lakukan. Pasalnya, berdasar survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia menempati posisi sepuluh negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.
Untuk itu, pembiasaan terkait literasi harus ditanamkan sejak dini kepada para pelajar. Sehingga, menumbuhkan generasi yang melek literasi.
Seperti yang diterapkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) 5 Kudus, mereka membiasakan para pelajarnya untuk membaca dan menulis. Dengan begitu, seiring berjalannya waktu, mereka dapat mencintai literasi.
Kepala SMP 5 Kudus Abdul Rochim menjelaskan, penting bagi para peserta didik untuk melakukan pembiasaan literasi. Seperti yang dikenalkan pada awal peserta didik masuk sekolah. Yakni dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Para peserta didik baru, pada awalnya memang dipaksa untuk membaca dan menulis.
“Memang harus ada dorongan untuk membuat mereka suka dengan baca tulis. Ini langkah awal mereka untuk menyukai literasi,” terangnya.
Di SMP 5 Kudus juga terdapat pembiasaan membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai setiap Selasa dan Rabu di pojok literasi kelas masing-masing. Selain itu, para pelajar sekolah tersebut juga diarahkan untuk membuat koran mini. Diharapkan, kedepannya mereka dapat menerbitkan buku sendiri.
“Koran mini ini sudah ada sejak sebelum pandemi. Awalnya anak Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang mengerjakan. Kedepannya, para pelajar di sekolah ini dapat berpartisipasi dalam pembuatan koran mini,” jelasnya.
Inisiasi koran mini bermula ketika SMP 5 Kudus mengikuti pelatihan jurnalis dari salah satu media. Dari sana, Rochim berinisiasi untuk membuat koran mini versi sekolah. Atas kesepakatan para guru, akhirnya program tersebut dapat dilaksanakan dan disambut dengan baik oleh para pelajarnya.
Untuk saat ini, pihaknya menilai koran mini masih terlalu mini. Akan ada pengembangan yang dilakukan, terkait berita, layout, halaman, partisipan, dan lain sebagainya. Antusias pelajar di sekolah tersebut menurutnya terbilang baik dengan adanya koran mini. Mereka menjadi lebih kreatif dan inovatif juga berkat program tersebut.
“Isi korannya berkaitan dengan pengalaman pribadi mereka atau lingkup sekolah. Dengan adanya koran mini ini, mereka bisa eksplor apa saja yang bisa dibuat karya atau tulisan,” ujarnya.
Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan SMP 5 Kudus, ia berharap kedepannya akan ada perkembangan-perkembangan lain yang mengarah ke tujuan yang lebih baik. Dengan adanya program tersebut, warga sekolah tersebut dapat melek literasi. Sehingga dapat menularkan ke masyarakat sekitar, nantinya. (cr1/fat)










