Jokowi: Telur Ayam Turun 2 Pekan ke Depan

KETERANGAN: Presiden Joko Widodo (tengah) memberikan keterangan kepada awak media usai melakukan kunjungan di Pasar Cicaheum Bandung, Minggu (28/8). (ANTARA/JOGLO JATENG)

JAKARTA, Joglo Jateng – Presiden Joko Widodo menyebutkan harga telur ayam yang kini tengah melonjak di pasaran, bakal turun dalam dua pekan ke depan. Menurutnya, harga sejumlah bahan pokok stabil kecuali telur.

“Harga relatif stabil, hanya satu (yang tidak stabil) di telur,” kata Presiden di sela meninjau harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Cicaheum, Bandung, Jawa Barat, Minggu (28/8).

Menurut Presiden, fluktuasi harga telur ayam tidak lepas dari kenaikan harga pakan ternak. Tetapi, ia meyakini kondisinya akan berangsur normal pada dua pekan ke depan. “Ya, ini kan pertama karena memang pakan ternak yang naik, yang kedua, ini fluktuasi biasa. Nanti, dua minggu ini insya Allah akan turun,” ujarnya menambahkan.

Berdasarkan laman sistem pemantauan harga pasar dan kebutuhan pokok Kementerian Perdagangan, tercatat harga telur ayam secara nasional berada pada rata-rata Rp 31.300 per kilogram per Jumat (26/8). Harga itu meningkat apabila dibandingkan rata-rata harga Rp 29.300 per kilogram untuk telur ayam pada 26 Juli 2022.

Secara sebarannya, per Jumat (26/8), harga telur ayam termurah berada di Provinsi Jambi dengan Rp27.300 per kilogram, sedangkan yang termahal sebesar Rp39.689 per kilogram di Provinsi Papua.

Sebelumnya, pada Jumat (19/8), Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan juga menyebut pencairan bantuan sosial yang digabung per tiga bulan turut memicu kenaikan harga telur ayam. Mendag mengaku mendapat masukan dari pengusaha telur agar pencairan bantuan sosial bisa dilakukan per bulan demi mencegah tingginya permintaan yang mempengaruhi harga di pasaran.

Namun di sisi lain, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini membantah bahwa penyaluran bantuan sosial reguler dalam Program Bantuan Pangan Non-Tunai atau Kartu Sembako terhadap kenaikan harga telur. Ia menyatakan bahwa Kementerian Sosial menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) senilai Rp 200.000 per bulan per keluarga manfaat dalam bentuk uang tunai, bukan telur.

“Yang jelas saya enggak bantu telur, karena enggak mungkin. Gimana cara baginya orang jutaan jumlahnya, kita bagi pecah sampai sana. Kita bantu uang ya,” katanya, Rabu (24/8). (ara/gih)