SEMARANG, Joglo Jateng – Semaraknya kemeriahan peringatan hari batik di Kota Semarang tak berhenti. Kali ini perayaan dilakukan oleh para pelaku UMKM, komunitas rumah pintar, dan komunitas harapan di Kota Semarang bertajuk “Ojo Dibanding- bandingke Iki Batikku,” yang digelar di hotel Novotel Semarang, Senin (3/10).
Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengapresiasi adanya gelaran kegiatan ini. Selain untuk mendongkrak UMKM, kegiatan yang juga diikuti oleh anak-anak berkebutuhan khusus itu bisa menjadi wadah bagi mereka untuk berekspresi dalam berkarya.
“Sangat luar biasa bagaimana selain meningkatkan UMKM tapi juga mengajak anak-anak yang kekurangan, disabilitas untuk ikut serta. Jadi tidak hanya membuat batik tapi juga untuk tampil, sehingga menjadi anak berani. Saya yakin tadi saya sampaikan di balik kekurangan mereka pasti ada kelebihannya. Ini yang perlu kita dorong,” ungkapnya.
Ita, sapaanya, juga berharap melalui kegiatan-kegiatan seperti ini dapat memberikan ruang yang lebih luas, khususnya untuk pemberdayan bagi perempuan yang 60 persen berkecimpung dalam UMKM. Selain itu, ita mengungkapkan beberapa hotel yang ada di Kota Semarang turut memberikan sinergi positif dalam perayaan Hari Batik di Kota Semarang ini, salah satunya adalah Novotel.
“Lha ini yang kita perlu kami juga mengucapkan terimakasih karena sekarang ini hotel-hotel bisa bergerak bersama dengan pemerintah Kota Semarang. Ini berbondong-bondong untuk bagaimana meningkatkan dan tentu tidak hanya pameran, tapi kami juga berharap ada juga untuk support umpamanya untuk taplaknya, mungkin untuk alasnya, atau alat-alat, atau mungkin sandal dari batik dan sebagainya. Sehingga akan ada berkelanjutan untuk para pelaku UMKM itu sendiri,” ucapnya.
General Manager Novotel Semarang, Gunawan Widodo, menyampaikan bahwa selain untuk memperingati Hari Batik, acara ini juga digelar untuk meningkatkan kreativitas anak-anak. Menurutnya, kegiatan membatik bersama dengan anak-anak berkebutuhan khusus ini diikuti oleh 20 anak penyandang disabilitas dan anak jalanan. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak dibebaskan untuk mencanting di atas kain yang terbentang sepanjang 20 meter.
“Jadi ke depannya, kita ingin menimbulkan rasa percaya diri dari mereka dan juga mengembangkan kreativitasnya. Jadi biar nantinya komunitas anak jalanan ini juga merasa tidak minder gitu ya. Terlebih kepada adik-adik kita yang memiliki disabilitas itu juga lebih mengembangkan rasa percaya dirinya,” katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan membatik bersama anak-anak penyandang disabilitas dan anak jalanan ini kali pertama digelar di Kota Semarang. Hal ini menjadi wujud kepedulian antara pelaku usaha kepada lingkungan sekitar, terlebih pada masyarakat di sekitar lokasi Novotel, di Kelurahan Sekayu.
Nantinya, hasil canting dari anak-anak akan dilanjutkan oleh pelaku UMKM batik yang sudah mahir di bidangnya. Kemudian, hasil batik keseluruhan akan dipasarkan maupun disimpan sebagai koleksi apabila ada yang menghendakinya.
“Akan dilanjutkan oleh peserta UMKM yang mereka sudah ahli membatik dan nantinya akan dipergunakan untuk dijual atau dibagikan kepada mereka yang ingin menyimpan kreativitasnya,” ungkapnya. (luk/gih)










