SEMARANG, Joglo Jateng – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang mengalami kenaikan signifikan. Dinas Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat, angka kasus DBD sampai Oktober 2022 mencapai sekitar 700 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, kasus DBD di Semarang naik 2 sampai 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. Menurutnya, kenaikan kasus DBD tidak hanya di Kota Semarang saja, melainkan juga terjadi di kota-kota besar lainnya.
“Ada 700 sekian kasus sampai sekarang ya. Dibandingkan tahun kemarin, tahun ini naiknya bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat. Bahkan sebenarnya tidak hanya di Kota Semarang saja kasus DBD ini tinggi, termasuk di kota-kota besar kasusnya tinggi,” ucapnya, belum lama ini.
Sehingga pihaknya pun menghimbau masyarakat untuk lebih berhari-hati mengenali tanda-tanda DBD. Masyarakat juga dihimbau untuk selalu waspada lantaran saat ini sudah masuk musim pancaroba, di mana nyamuk aedes aegypti lebih cepat berkembang biak.
“Saya menghimbau kepada masyarakat, untuk lebih berhati-hati. Karena kalau musim seperti ini akan ada tempat yang akhirnya menjadi tempat untuk menimbun air, yang nanti akan jadi tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti. Akibatnya membuat kasusnya meningkat di daerah tersebut,” jelasnya.
Disisi lain, Hakam mengaku pihaknya sedang mempersiapkan pilot project penyebaran nyamuk aedes wolbachia, sebagai langkah untuk menurunkan angka kasus DBD yang rencanaya akan dilakukan November mendatang. Wolbachia sendiri merupakan metoda baru yang dapat melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk aedes aegypti, sehingga virus dengue tidak akan menular ke dalam tubuh manusia.
“Kemungkinan awal November, kita sedang genjot sosialisasi wolbachia. Manfaatnya kalau kita nabur, atau menyebar nyamuk, memiliki manfaat yang bisa membuat nyamuk aedes aegypti ini tidak bisa bertelur dan berkembang,” katanya.
Melalui metode wolbachia, nyamuk yang telah terinfeksi akan disebar untuk menyalurkan virus wolbachia ke nyamuk yang lain. Sehingga, sangat diperlukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Ini kita sampaikan, jangan sampai masyarakat salah persepsi. Ini advokasi dan edukasi ke masyarakatnya harus semakin kencang ini,” lanjut Hakam.
Nantinya, wolbachia di Kota Semarang akan diterapkan 5 kecamatan yang memiliki kasus tertinggi DBD. Di antaranya di Kecamatan Tembalang, Banyumanik, Ngaliyan, Semarang Utara dan Semarang Barat. Projek tersebut akan berlangsung selama 6-8 bulan. (luk/gih)










