JEPARA, Joglo Jateng – Ketika memutuskan berhenti bekerja setelah menikah, Maria Leoni (38) tak pernah membayangkan akan menjadi pengusaha tenun yang produknya kini dikenal hingga 12 negara.
Berawal dari membantu usaha keluarga di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, perempuan 38 tahun itu berhasil membuktikan bahwa perempuan mampu membangun kemandirian ekonomi. Ia sekaligus membuka peluang bagi banyak orang di sekitarnya.
Perjalanan Leoni tidak dimulai dari modal besar maupun jaringan bisnis yang luas. Setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai teller bank, ia sempat ingin kembali bekerja.
Namun, kondisi saat itu membuatnya memilih membantu usaha tenun milik sang suami. Keputusan tersebut justru menjadi titik balik hidupnya.
Di tengah peran sebagai istri dan ibu rumah tangga, Leoni mulai mempelajari bisnis tenun secara serius. Ia mengikuti berbagai pelatihan, memperluas jaringan, hingga berani memimpikan pasar yang lebih besar bagi produk tenun Troso.
“Kalau mau maju, pangsa pasarnya memang harus diperluas. Jangan hanya lokal saja,” kata Leoni, Selasa (23/6/2026).
Berbekal keyakinan tersebut, Leoni perlahan mengubah usaha keluarga menjadi bisnis yang lebih profesional.
Ia mengurus legalitas perusahaan, mendaftarkan merek dagang, hingga aktif mengikuti program pendampingan UMKM yang diselenggarakan berbagai lembaga.
Langkah itu membuahkan hasil. Pada 2020, Leoni berhasil melakukan ekspor mandiri untuk pertama kalinya setelah mengikuti Export Coaching Program dari Kementerian Perdagangan.
Sejak saat itu, pasar Kain Ratu terus berkembang hingga menjangkau pelanggan di Arab Saudi, Jepang, Myanmar, Australia, Portugal, Selandia Baru, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.
Kesuksesan tersebut tidak hanya berdampak pada pertumbuhan usahanya. Kain Ratu juga menjadi sumber penghidupan bagi para penenun lokal.
Saat ini, Leoni bermitra dengan sekitar 20 penenun Troso yang turut menikmati manfaat dari meningkatnya permintaan pasar.
Bagi Leoni, keberhasilan bisnis bukan semata soal omzet atau ekspor. Ada kepuasan tersendiri ketika usaha yang dibangunnya mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Terutama, para perajin yang menggantungkan hidup dari industri tenun.
“Bisnis itu membantu banyak orang secara tidak langsung ya, membantu penenun. Di situ letak kebahagiaan yang saya rasakan,” ujarnya.
Kisah Leoni menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi perempuan dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana di rumah. Hal itu terwujud dengan keberanian belajar, membangun jaringan, dan memanfaatkan berbagai program pemberdayaan.
Perempuan tidak hanya mampu mengembangkan dirinya sendiri, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi bagi komunitas di sekitarnya.
Kini, dari sebuah usaha rumahan di Troso, Leoni berhasil membawa tenun Jepara menembus pasar internasional. Pencapaian ini sekaligus menjadi contoh bagaimana perempuan dapat mengambil peran strategis dalam penguatan ekonomi keluarga dan pemberdayaan masyarakat. (oka/gih/rds)










