Pentingnya Asesmen Diagnostik dalam Pembelajaran

Oleh: Musnaeni, S. Pd. SD.
Guru SD Negeri 02 Kabunan, Kec. Taman, Kab. Pemalang

ASESMEN adalah sebuah upaya untuk mendapatkan data/informasi dari proses dan hasil pembelajaran untuk mengetahui seberapa baik kinerja siswa, kelas, atau mata pelajaran dibandingkan dengan tujuan/capaian pembelajaran tertentu. Dalam dunia Pendidikan dikenal berbagai jenis asesmen. Guru perlu melakukan asesmen diagnostik yang dilakukan secara spesifik untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, dan kelemahan siswa.

Pelaksanaan asesmen kognitif juga dipandang sangat penting. Mengingat kondisi pembelajaran saat ini sangat dipengaruhi oleh dampak pandemi covid-19, yang pada saat itu dilaksanakan pembelajaran jarak jauh. Dampak yang terjadi yaitu tidak tercapainya tujuan pembelajaran, hingga menurunnya kemampuan siswa.

Asesmen diagnostik bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dan mengetahui kondisi awal siswa. Dengan begitu, guru dapat memetakan kemampuan siswa di kelas secara cepat serta mengidentifikasi tingkat kefahaman siswa pada pelajaran. Jika hasil menunjukkan bahwa perkembangan atau hasil belajarnya masih tertinggal atau tidak memenuhi target yang telah ditetapkan, maka guru dapat memberikan treatment.

Asesmen diagnostik atau penilaian diagnostik yang adalah asesmen non-kognitif dan asesmen kognitif. Keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Asesmen non-kognitif bertujuan untuk mengetahui dan memahami kondisi kesejahteraan psikologi, aktivitas siswa selama belajar dirumah, gaya belajar, pergaulan, dan kondisi keluarga siswa. Sedangkan asesmen kognitif memiliki tujuan untuk mengidentifikasi capaian kompetensi siswa. Lalu menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pelaksanaan asesmen non kognitif maupun asesmen kognitif memiliki tiga tahapan yang sama yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Meskipun demikian, tetap ada hal yang membedakan mengingat tujuan yang ingin dicapai juga berbeda.

Dalam melaksanakan asesmen diagnostik non-kognitif, ada beberapa tahap dan kegiatan yang perlu guru lakukan. Pertama, tahap persiapan. Yakni menyiapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosi, membuat daftar pertanyaan kunci mengenai aktivitas siswa. Kedua tahap pelaksanaan, memberikan gambar emosi kepada siswa. Kemudian meminta siswa untuk mengekspresikan perasaannya selama belajar di rumah melalui cerita secara lisan, tulisan, atau gambar;

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Ketiga, tahap tindak lanjut, mengidentifikasi siswa dengan ekspresi emosi negatif, mengajak siswa untuk berdiskusi secara personal. Lalu menentukan tindak lanjut atau treatment untuk membantu siswa, mengkomunikasikan dengan siswa serta orang tua bila diperlukan. Berikutnya mengulangi pelaksanaan asesmen non kognitif di awal pembelajaran.

Sedangkan tahapan dan kegiatan yang dilakukan guru ketika melakukan asesmen diagnostik kognitif yaitu, pertama tahap persiapan. Meliputi pembuatan jadwal pelaksanaan asesmen, mengidentifikasi materi asesmen. Kemudian menyusun pertanyaan sederhana dengan formula dua soal sesuai kelasnya, dengan materi yang akan dipelajari. Kedua tahap pelaksanaan. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan asesmen yang telah disusun kepada semua siswa di kelas.

Ketiga tahap tindak lanjut. Meliputi pengolahan hasil asesmen yang telah diberikan dengan membuat kategori Paham Utuh, Paham Sebagian, dan Tidak Paham. Berikutnya menghitung rata-rata kelas, membagi siswa berdasarkan nilai ke dalam tiga kategori. Siswa yang mendapatkan nilai rata-rata kelas, akan mengikuti pembelajaran sesuai fasenya. Mereka yang mendapat nilai di bawah rata-rata akan mengikuti pembelajaran khusus atau pendampingan pada kompetensi yang belum terpenuhi. Sedangkan siswa dengan nilai di atas rata-rata akan mengikuti pembelajaran dengan pengayaan. Selain itu, melakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik pembelajaran baru. Yakni untuk menyesuaikan pembelajaran yang sesuai dengan rata-rata kemampuan siswa.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Dengan melakukan asesmen diagnostik, guru telah mendiagnosis penyebab terjadinya hambatan dan kesulitan siswa dalam proses belajar. Lebih lanjut, memberikan alternatif pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi awal siswa. Guru memastikan semua siswa memiliki pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. (*)