Kasus Dugaan Suap Seleksi Perangkat Desa di Demak: Ratusan Juta Disetor untuk Jadi Sekdes

Sidang kasus dugaan suap terhadap dosen UIN Walisongo Semarang di Pengadilan Tipikor Semarang pada Selasa, 22/11/22. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kepala Desa Cangkring, Kabupaten Demak, Imam Jaswadi, yang merupakan makelar dalam kasus dugaan suap seleksi perangkat desa di Kecamatan Gajah memasang harga untuk para calon guna menduduki posisi sekretaris. Diketahui, ia mematok biaya Rp. 150 juta hingga Rp. 250 juta per orangnya.

Jaksa Penuntut Umum, Sri Heryono dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Semarang mengatakan, terdakwa Imam Jaswadi bersama dengan terdakwa Saroni, sebelumnya sempat menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Sektor (Wakapolsek) Karanganyar. Mereka berhasil menghimpun uang setoran dari para calon perangkat desa hingga Rp. 3 miliar.

Baca juga:  Tekankan Pentingnya Literasi Politik bagi Pemilih Pemula dan Kaum Minoritas

Uang setoran yang besarannya bervariasi itu berasal dari 16 calon perangkat daerah. Dimana perangkat ini berasal dari delapan desa di Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Dari jumlah yang itu, sebanyak Rp. 830 juta diserahkan kepada dua dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, yakni Amin Farih dan Adib. Keduanya merupakan pengarah dan ketua panitia tes dalam seleksi penerimaan perangkat desa tersebut.

“Penyerahan dalam dua tahap, masing-masing Rp. 720 juta dan Rp. 110 juta,” katanya dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Arkanu.

Baca juga:  Sukseskan Pemilu 2024, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Turut serta Membantu Administrasi KPPS

Jaksa dalam dakwaannya juga menyebut uang sejumlah Rp. 300 juta dari setoran para calon perangkat desa diserahkan oleh Amin Farih kepada Wakil Dekan FISIP UIN Semarang,  Tholkhatul Khoir. Kemudian dilaporkan kepada Dekan FISIP UIN Semarang, Misbah Zulfa Elisabeth.

Dari pemberian uang seleksi tersebut, Amin Farih dan Adib yang juga diadili dalam perkara yang sama. Dimana mereka memberikan bocoran jawaban dari soal ujian seleksi perangkat desa tersebut.

Tindak pidana suap seleksi perangkat desa di Kabupaten Demak itu terungkap dari kecurigaan Rektor UIN Semarang Imam Taufik, saat melakukan inspeksi dalam pelaksanaan ujian seleksi calon kepala desa pada Desember 2021.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun, Manfaatkan Limbah Minyak Jelantah

Rektor UIN curiga terhadap sejumlah peserta yang mampu menyelesaikan ujian dalam waktu singkat dan memperoleh nilai di atas 90.

Dari hasil koordinasi, lanjut jaksa, rektor menyatakan pelaksanaan ujian seleksi perangkat desa di Kecamatan Gajah tersebut tidak sah atau cacat hukum. (ara/mg2)