KABUPATEN Pati memiliki sejumlah potensi keragaman. Di antaranya berupa tempat wisata yang berada di kawasan pesisir pantai utara, hingga panorama keindahan alam di lereng pegunungan Kendeng dan Muria.
Namun, daerah yang terkenal dengan julukan Kota Pensiunan dan Hogwarts van Java (Kota Seribu Paranormal) itu juga mempunyai beragam jenis sajian kuliner. Selain memiliki citra rasa yang khas dan menggoyangkan lidah, masakan di Pati juga terbilang irit biaya.
Makanan di Pati terbilang sangat beragam. Dari mulai nasi gandul, makanan tradisional yang sangat legendaris hingga soto kemiri, sajian lezat yang kental dengan aroma rempah-rempahnya. Namun, ada salah satu kuliner yang tak kalah populer yaitu petis runting.
Makanan yang terbuat dari tepung beras, tulang kambing, dan sapi itu kian eksis dan menjadi makanan favorit para pemburu kuliner. Sebutan makanan ini diambil dari nama Dukuh Runting, Desa Tambakharjo, Kecamatan Pati. Desa ini terletak tak jauh dari pusat kota. Hanya berkisar tiga kilometer saja dari Alun-Alun Kota.
Di sana, banyak sekali warung yang menjajakan petis runting. Salah satu yang cukup terkenal yakni buatan Tutik. Wanita itu sudah berjualan petis runting bersama sang suami sejak 2014 silam. Ia mewarisi resep dari peninggalan orang tua yang dulunya berjualan makanan yang mirip dengan gulai itu.

“Sekitar delapan tahunan (berjualan petis runting, Red.). Resepnya dulu dari ibu saya. Ibu saya dulunya punya warung kecil-kecilan, meninggal terus saya teruskan,” katanya.
Tak hanya menyediakan petis runting saja, di warungnya ia menambahkan sate sebagai hidangan pelengkap. Awalnya hanya disediakan sate kambing, kemudian ada permintaan sate ayam dan sate sapi.
Tambahan menu inilah yang membuat daya tarik tersendiri bagi para penikmat kuliner. Ditambah, petis runting memiliki ciri khas kuah encer dengan campuran tulang segar. Inilah yang membuat petis runting berbeda dengan masakan petis pada umumnya.
“Kalau petis runting itu cair seperti gulai, nggak ada santannya tapi manis, terus ada tulangnya. Yang membuat seni petis runting itu ada balungannya. Katanya itu seni tersendiri. Makan petis sambil nyemut balung,” ungkap Tutik.
Dalam waktu sehari saja, ada puluhan hingga ratusan orang yang datang ke warungnya. Bahkan, Ia mampu menghabiskan puluhan kilogram tulang kambing ataupun sapi dari pagi hingga petang.
Selain menjual petis, suami Tutik juga memiliki tempat pemotongan hewan. Sehingga tulang kambingnya bisa gunakan sebagai campuran petisnya. Sementara untuk harga petis runting per porsinya dibadrol dengan Rp 7 ribu.
“Per porsinya tidak pernah dihitung. Tapi kalau tulangnya sekitar 10 kiloan. Tapi kalau lagi sepi kurang dari segitu. Kalau libur ramai. Biasanya hari Ahad dan Sabtu,” terangnya.

Sementara itu, penikmat kuliner, Rukhul mengungkapkan, yang membedakan petis runting dengan masakan petis pada umumnya adalah soal warna dan campurannya. Karena pada umumnya, petis runting ini dihindangkan dengan kikil, sate kambing, dan tulang kambing segar. Sehingga menambah kenikmatan citra rasanya.
“Petis di kota lain itu warnanya hitam. Seperti isian tahu petis. Kalau petis runting itu warnanya kecoklatan. Apalagi penjual petis runting kebanyakan juga jegal (pemotong hewan) sehingga balungan (tulang) yang dipakai segar,” ucapnya.
Seperti diketahui, petis runting saat ini tak hanya bisa ditemukan di Dukuh Runting Desa Tambakharjo saja. Namun, makanan ini telah menyebar ke sejumlah wilayah di Kabupaten Pati khususnya.
Bahkan, resep sajian ini sudah tak asing lagi bagi orang-orang di Pati. Apalagi saat Hari Raya Idul Adha, petis runting menjadi masakan yang paling cocok saat melimpahnya daging dan tulang kambing ataupun sapi. Seperti halnya asal usul munculnya makanan tersebut. (lut/mg4)










