JEPARA, Joglo Jateng – Pemblokiran jalan di PLTU Jepara membuat resah Nelayan dan Petani di Desa Tubanan. Selain menghambat mobilitas kerja, juga menjajah kepemilikan tanah (aset) milik pemerintah daerah.
Ketua Nelayan Desa Tubananan, Sudarmanto memaparkan, akses jalan umum di area PLTU diblokir oleh pendaku tanah, AHS. Lantaran pemblokiran, akses kerja nelayan dan petani jadi terhambat.
“Nelayan setempat tidak mau diinjak-injak. Ini jalan umum untuk kepentingan umum, bukan pribadi. Karena pemblokiran, kinerja kami semakin susah,” papar Sudarmanto, Senin (9/1/23).
Pemblokiran tersebut, menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol – PP) Jepara, Anwar Sadad bermula dari konflik kepemilikan tanah, Sri Wulan yang menjual ke 11 orang. Namun, sertifikat asli dipegang dia.
“Padahal salah satunya sudah dibeli oleh PLTU Jepara. Tapi, menurut info Sri Wulan menjual ke Pak Agus. Hingga saat ini, persoalan itu masih diproses di Markas Polisi Resor (Mapolres) Jepara,” terang Anwar.
Pemblokiran jalan tersebut dinilai mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Unutk itu pihaknya menerjunkan ekskavator untuk merobohkan bangunan semi permanen di area PLTU Jepara.
Sewaktu proses perobohan, Satpol PP, Polisi dan Tentara yang mengamankan sempat diancam oleh tim AHS. Bunyi ancaman itu, ‘apabila Pemkab kekeuh dengan perobohan, maka sangat berpotensi terjadinya pertumpahan darah’.
Meski demikian, Anwar tetap melangsungkan perobohan. Menurutnya, ini instruksi yang diberikan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, untuk mempertahankan aset daerah.
“Berdasarkan surat perintah 180/021566 tentang rekomendasi penyelesaian aset daerah, jalan aset pemda. Ini titah dari atasan, harus kami jalankan. Di lapangan, diadakan pengamanan fisik serta penertiban. Tidak kami angkut, hanya mengamankan,” jelasnya.
Guna menjaga kondusifitas di lokasi perobohan, ia akan mendelegasikan penjaga selama 15 hari ke depan. Hal tersebut, guna mengamankan kelanjutaan konstruksi pembangunan di PLTU Jepara.
“Akan kami jaga 15 hari ke depan, teruskan konstruksi cor-coran yang akan menyambung ke lokasi. Guna pemanfaatan jalan umum nelayan dan petani dalam mengakses jalan,” pungkas dia. (cr2/fat)










