Kasus DBD di Kota Semarang Terus Meningkat

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG,Joglo Jateng– Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang terus meningkat. Selama tiga tahun terakhir kasus DBD mencapai 857 orang terkena penyakit tersebut, terutama yang paling banyak yaitu daerah Kecamatan Tembalang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang (Diskes) M Abdul Hakam mengukapkan, tiga tahun belakangan ini dari 2020 sampai 2023 kasus DBD terus meningkat hampir tiga kali lipat dibandingan dari 2021. Sehingga, dari pihaknya masih menyusun strategi untuk menuntaskan penyakit nyamuk ini.

Selamat Idulfitri 2024

“Dalam kasus 857 orang itu, 30 diantaranya meninggal dunia. Yakni meliputi 18 laki-laki dan 12 perempuan,” ucapnya saat diwawancarai, Selasa (10/1/23).

Baca juga:  Bantul Dipersiapkan Jadi Percontohan Kabupaten Antikorupsi

Ia menambahkan, pihaknya akan memperbaiki tiga hal untuk menurunkan kasus DBD. Di antaranya dari lingkungan masyarakat seperti pengolahan sampah dan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Lalu peningkatan imunitas jika ia berusia dewasa yang memiliki penyakit diabetes dan hipertensi yang menjadi komorbid harus dikendalikan. Kemudian, peningkatan kelompok nyamuk dengue untuk segera dituntaskan.

“Kota Semarang termasuk wilayah yang mudah terhadap penyakit-penyakit komorbid, misalnya demam berdarah, leptospirosis dan lain-lain,” katanya.

Di sisi lain, ia juga meminta masyarakat untuk mewaspada DPD terutama setelah banjir di Kota semarang, belum lama ini. Ia mengukapkan, pihaknya telah melakukan survey ke beberapa wilayah dan masuk ke rumah warga. Setelah dilakukan pemeriksaan NS1, yang merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan protein non-struktural 1 yaitu protein yang dimiliki virus dengue penyebab DBD, ditemukannya satu kasus DBD yang  hasilnya positif di Semarang Barat.

Baca juga:  Pemkot Yogyakarta Lakukan Berbagai Antisipasi Hadapi Pemudik

“Jangan sampai mengonsumsi sumber air itu tidak dalam keadaan matang, edukasi inilah yang harus lebih detail lagi ke masyarakat,” imbaunya.

Ia menjelaskan, beberapa wilayah yang telah dilakukan survei tersebut di antaranya Mangkang, Semarang Barat, Gayamsari, Semarang Utara, dan Pedurungan.

Ia menambahkan, masyarakat diminta sering cek kesehatan di puskesmas atau rumah sakit terdekat. Serta rutin melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) Gerakan 3M yakni menguras, menutup dan mengubur yang hanya memakan waktu 30 menit itu dirasakan sangat efektif dan efisien.

“Kalau dulu seminggu biasanya 1 kali, ayo sekarang lakukan seminggu 2-3 kali,” imbuhnya. (cr7/gih)