SEMARANG, Joglo Jateng – Tepat 17 Rajab 1444 Hijrah atau yang bertepatan pada tanggap 7 Februari 2023 Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad. Sudah tidak diragukan kiprah NU dalam berbagai bidang.
Hal ini diakui oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin Maimoen. Ia mengatakan, peran NU untuk negara Indonesia diawali sebelum bangsa ini merdeka. Para nahdliyin (warga NU) benar-benar membantu Indonesia melawan penjajah.
“Kiprah NU sudah tidak kita ragukan lagi. Baik selaku jam’iyyah secara organisasi atau gerakan sosial yang dilakukan oleh para nahdliyin, juga dilakukan para ulama saat ini membantu pemerintah. Baik itu menguatkan dari segi pendidikan juga di pemerintahan sendiri,” kata Taj Yasin Maimoen saat ditemui di Rumah Dinas Wagub Jateng Jalan Rinjani, Semarang, belum lama ini.
Gus Yasin sapaan akrabnya, berharap perjuangan nahdliyin terdahulu harus diteruskan. Misal menjadi pengajar ataupun menjadi wakil rakyat di pemerintahan.
“Saya sebagai kader NU atas nama pemerintah berharap perjuangan para pendahulu kita perlu diteruskan. Seiring dengan berjalannya waktu tentu kita berpedoman bahwa setiap masa itu ada pemimpinya. Kita tidak bisa serta-merta sama dengan perjuangan hadratussyaikh. Kita harus memiliki inovasi, memiliki ide-ide kreatif bagaimana menyatukan umat,” akunya.
Lebih lanjut, pihaknya juga mengimbau agar masyarakat tidak menghakimi orang yang tidak sepemahaman dengan mereka. Yakni dengan mengedepankan toleransi rahmatan lil alamin.
Sendi-sendi NU ada disetiap daerah di Indonesia baik di Papua, Aceh, Jawa, dan daerah lainnya. Keterlibatan dalam dunia pemerintahan di berbagai tingkatan juga menjadi torehan lain. Dibuktikan dengan banyak kader yang mempunyai jabatan tinggi di pemerintahan.
“Ini menunjukan bahwa dedikasi Nahdhatul Ulama sangat berarti untuk keberlangsungan Negara Republik Indonesia ini menjadi Baldatun Toyyibatun Warrobbun Ghofur,” imbuhnya.
Di sisi lain, emansipasi perempuan yang diperjuangkan oleh syariat agama Islam juga diteruskan oleh para pendiri NU. Gus Yasin mengaku tantangan ke depan bagi NU adalah merangkul semua umat untuk mengedepankan toleransi dan menggaet generasi milenial untuk berbudi pekerti baik.
Tokoh lintas agama berserta organisasi masyarakat juga digandeng untuk duduk bersama mencari solusi. Tentu dengan mengedepankan Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita sering duduk bersama. Kita harus menyatukan bahwa perbedaan antar agama perbedaan antar kelompok itu pasti akan muncul, akan tetapi karena cita-cita kita sama yaitu membangun peradaban membangun negara kita makanya di negara kita ini ada yang namanya Bhineka Tunggal Ika,” tegasnya.
Cara menggaet generasi milenial sebagai penerus bangsa juga sudah dilakukan 10 tahun terakhir. Yakni dengan mengajak pemuda untuk aktif terlibat memberantas narkoba dan tawuran antar geng. “Mereka sudah kita libatkan semuanya dan dari Nahdhatul Ulama sendiri banyak tokoh-tokoh muda yang saat ini mengisi di organisasi pemerintahan,” pungkasnya. (luk/gih)










