Ita: Penanganan Banjir Dilakukan Lintas Daerah

Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menjelaskan, penanganan banjir bandang di daerah itu secara lintas daerah bersama Pemerintah Kabupaten Semarang. Tugas pemkab adalah melakukan asesmen RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah),

“Di sana (Kabupaten Semarang) banyak pengembangan rumah, galian C, dan sebagainya,” ujar Hevearita, usai rapat koordinasi di Kantor Pemprov Jateng tentang penanganan banjir yang dihadiri juga oleh perwakilan Pemkab Semarang. Yakni dari Dinas Pekerjaan Umum, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), belum lama ini.

Di Kabupaten Semarang, kata dia, dilakukan juga penataan lingkungan. Karena mungkin banyak juga hutan yang merupakan hulu sudah gundul. Sehingga mengakibatkan Sungai Babon belakangan kerap meluap.

Meluapnya Sungai Babon membuat sejumlah permukiman di Kota Semarang menjadi langganan banjir bandang. Seperti pada Perumahan Dinar Indah dan wilayah Rowosari yang dalam Februari ini sudah beberapa kali kebanjiran.

“Ketiga, pembuatan bendungan dan kolam retensi dari wilayah hulu. Karena diharapkan kolam retensi juga bisa menjadi (sumber, Red.) air baku, diusulkannya seperti itu,” terangnya.

Untuk Kota Semarang, ia mengaku sudah mengusulkan penanganan darurat. Karena jika menunggu perencanaan di hulu tentunya membutuhkan waktu. Padahal banjir bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Semarang sebagai daerah bawah kan dapat banyak impact dari bagian hulu. Penanganan (darurat, Red.) dari sisi Dinar Indah dan Rowosari nanti pemasangan beronjong (anyaman kawat) di sungai,” ungkapnya.

Ita menyampaikan, langkah tersebut akan segera dibahas bersama BBWS selaku pengelola sungai. Agar tidak terjadi kesalahan dalam langkah penanganan.

“Kami akan bahas bersama, mana bagian BBWS, mana bagian pemkot. Mengingat Sungai Babon kewenangan BBWS, jangan sampai terjadi salah langkah. Niatnya melakukan percepatan, tetapi dampaknya nanti mengakibatkan di ranah hukum,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas PU Kabupaten Semarang Valeanto Soekendro mengatakan, Sungai Mluweh yang menjadi hulu Sungai Babon selama ini belum memiliki tanggul yang permanen. Sehingga mengakibatkan banyak tergerus badan sungai.

“Mengakibatkan sungai berpindah, belok terus. Saat ini mengarah ke permukiman warga,” katanya.

Oleh karena itu, Pemkab mengusulkan agar bisa ditangani segera sedimentasi dan lumpurnya. Kemudian membuat bendungan dan kolam retensi antara Penggaron, Desa Mluweh (Kabupaten Semarang), dan Jabungan (Kota Semarang). (ara/mg4)