KUDUS, Joglo Jateng – Pandemi Covid-19 berdampak bagi kehidupan manusia dan merubah kebiasaan. Hal ini membuat SD Cahaya Nur, harus memulai kembali kembiasan-kembiasaan adiwiyata secara perlahan. Meski begitu, hal tersebut tak menyurutkan semangat warga SD tersebut untuk kembali giatkan adiwiyata.
Kepala SD Cahaya Nur, Nanik Doso Arum Indah Lestari menjelaskan, SD Cahaya Nur telah berpredikat sebagai adiwiyata mandiri sejak 2013 lalu. Tentu saja berbagai program telah dilakukan sesuai dengan program yang diajukan. Namun akibat dari pandemi membuat program-program harus dimulai kembali pembiasaannya.
“Sedikit demi sedikit kami kembali menata ulang. Terus terang, membina kebiasaan sikap anak yang sudah berkurang itu harus perlahan, step by step,” terangnya.
Dulunya, produk dari program ke-adiwiyata-an di SD Cahaya Nur bisa sampai terjual keluar karena memiliki nilai jual. Diantaranya seperti, produk pengolahan sampah organik berupa pupuk cair, juga produk pengolahan sampah anorganik. Seperti tas, tempat pensil, dan sebagainya. Selain itu, buah dan sayur hasil kebun sekolah juga dijual.
“Itu dulu produk adiwiyata kami bisa sampai terjual. Untuk sekarang kami masih menggiatkan kembali secara perlahan, hasilnya pun baru bisa digunakan untuk lingkungan sekolah sendiri, belum bisa dijual,” paparnya.
Saat ini secara perlahan pembiasaan adiwiyata atau kecintaan lingkungan terus digiatkan. Diantaranya dengan menanam dan merawat tanaman, menjaga kebersihan, pemilahan sampah, penataan ulang, dan pengelolaan sampah. Selain itu, penelitian yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan juga terus digiatkan.
“Tak hanya sekedar aksi kepedulian, anak-anak kami arahkan juga untuk berinovasi dan improvisasi. Misalnya lewat penelitian, kemarin itu sampai maju ke perlombaan, kulit pisang jadi batu baterai, kulit telur dapat membekukan darah,” ungkapnya.
Pihaknya berharap, para pelajar dapat memiliki kesadaran untuk mencintai lingkungan. Karena siapa lagi yang akan merawat bumi nantinya, jika bukan kita. Penanaman kesadaran lingkungan memang harus dimulai sejak dini, anak-anak harus terlibat dalam mencintai lingkungan sesuai kemampuan mereka. (mey/fat)










