PATI, Joglo Jateng – Kasus kenakalan remaja di Kabupaten Pati mencuat beberapa bulan terakhir ini. Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskim) Polresta Pati mencatat, kenakalan remaja pada Januari hingga akhir Mei 2023 ini mencapai 14 kasus.
Para remaja tersebut harus berurusan dengan pihak kepolisian karena terlibat beberapa masalah. Di antaranya 7 kasus pengeroyokan, 4 kasus penganiayaan, dan 3 kasus kenakalan lainnya yang melibatkan anak. Jadi total terdapat 14 kasus yang melibatkan 21 pelaku remaja.
“Untuk kejahatan pengkeroyokan dan penganiayaan itu banyak juga pelakunya di bawah 18 tahun masih diusia pelajar,” ungkap Kepala Satreskrim Polresta Pati, Kompol Onkoseno Gradiarso Sukahar, belum lama ini.
Ia menjelaskan, banyaknya kasus kenakalan dikalangan remaja itu karena faktor mudah terpancing emosi. Pasalnya, kata dia, mereka masih mencari jati diri sehingga emosionalnya belum stabil.
“Kasus pelajar ini iya kasus penganiayaan akibat balap liar dijalan, senggolan dijalan dan lainnya. Mereka masih belum bisa menilai mana yang baik dan buruk, sehingga lebih gampang terbawa suasana dan terpengaruhi hal-hal yang negatif,” terangnya.

Pihaknya menambahkan, mereka yang terkena kasus akan ditindaklanjuti oleh pihak berwajib dan akan diproses hukum. “Ada pasal pidananya. Ketika hal itu dilaporkan di kepolisian, tentunya kita punyak kewajiban menindaklanjuti hal tersebut, kita akan memproses hukum pada para pihak,” sebutnya.
Selain itu, remaja yang pernah terlibat kasus hukum juga akan berpengaruh terhadap masa depan mereka. Seperti kesulitan saat membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).
“Yang dirugikan para pihak yang dilaporkan. Karena nanti minimalnya mereka untuk mengurus SKCK kesulitan, sedangkan SKCK dibutuhkan para pelajar ketika menempuh pendidikan lebih lanjut atau untuk mencari pekerjaan di kemudian hari,” imbuhnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap agar para remaja lebih bisa menyalurkan kegiatan positif seperti ikut olahraga. Sehingga terhindar dari hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri.
“Harusnya disalurkan dengan kegiatan positif. Mengikuti lomba-lomba yang memang bisa menyalurkan kepentingan persaingan, dan jadi ajang pembuktian diri tapi di arena yang positif,” tandasnya. (lut/fat)










