SEMARANG, Joglo Jateng – Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang (Rasa Dharma) memindah bong pay atau nisan dari batu tertua yang ditemukan di kawasan Gunung Brintik (Bukit Bergota) untuk dimakamkan di Mount Carmel Memorial Park, Kabupaten Semarang, Selasa (13/6/23). Bong pay tersebut diperkirakan ada sejak tahun 1701 lalu.
“Kalau dari yang ada di bong pay itu tertulis tahun ular logam pada pemerintahan Kaisar Kangxi bila dikonversi ke tahun masehi berarti tahun 1701. Kemudian tertulis makam mendiang ayahanda Yan-guan (Yen Kuan) kepala keluarga Wu (Go) dalam tulisan Hanzi,” ungkap Bram Luska (37), sang penemu bong pay yang juga merupakan penggemar sejarah peranakan China di Nusantara itu.
Diketahui, bong pay tersebut memiliki panjang 160 cm dan lebar 66 cm. Selain itu juga memiliki ketebalan 19 cm dan diperkirakan beratnya lebihh dari 500 kg.
Bram menceritakan awal penemuan bong pay tersebut dari ketidak sengajaan menemukan di depan halaman rumah teman istrinya pada Desember 2020 lalu. Semula batu nisan tersebut digunakan oleh warga sebagai jembatan penyeberangan, dan berakhir dibiarkan saja oleh para warga setelah tidak digunakan.
“Saya sama temen saya Mas Pippo Agosto sering blusukan mencari sisa bong pay dan sisa bong yang tersebar di perbukitan Kota Semarang. Untuk melengkapi puzzle Sejarah Peranakan yang ada di Semarang, dan dari ratusan bong pay yang kita temukan ini bong pay yang paling tua,” katanya
Pada saat awal penemuan bong pay tersebut, lanjut Bram, dirinya sempat bingung untuk menempatkan bong pay itu agar tidak rusak. Akhirnya ia menghubungi Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang, Harjanto Halim, untuk diselamatkan dengan dirumahkan sementara di Gedung Rasa Dharma, Jalan Gang Pinggir No. 31, Semarang.
“Setelah beberapa waktu, Mount Carmel Memorial Park menawarkan untuk menerima bong pay tersebut, pemakaman memanglah tempat yang lebih sesuai untuk batu nisan,” ujarnya.
Bram mengaku dirinya dan Pippo memang penikmat untuk mencari bong pay. Terlebih jika dilihat dari sejarahnya Kota Semarang memiliki pemakaman china yang sangat luas khusunya diperbukitannya. Mulai dari Bergota, Gayamsari, hingga Kedungmudu.
“Kita dari hobi saja, karena ini kan juga sejarah tionghoa, terlebih yang berhubungan dengan kuburan ini kok tidak pernah tersentuh padahal itu juga sumber sejarah,” tandasnya. (luk/mg4)










