SLEMAN, Joglo Jogja – Pelaksanaan perayaan Hari Raya Iduladha tinggal menghitung hari. Berkaitan dengan penyembelihan hewan kurban, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengimbau agar masyarakat mengelola dengan baik limbah hewan yang disembelih.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan, Iduladha menjadi momen berbagi rezeki bagi sesama. Namun, biasnya dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, sering menimbulkan limbah yang perlu dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan.
“Selama ini banyak ditemui limbah penyembelihan hewan kurban dibuang ke sungai. Tentunya praktik pembuangan limbah ini sangat disayangkan. Mengingat limbah hewan kurban seperti darah, usus, dan kotoran hewan kurban mengandung bakteri yang dapat merusak lingkungan jika dibuang sembarangan,” katanya, belum lama ini.
Kustini berharap, imbauan itu menjadi perhatian bagi masyarakat. Tujuannya agar limbah hewan kurban tidak mencemari sungai. Selain itu, tidak menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat yang memanfaatkan sungai.
Sebagai pedoman pemotongan hewan kurban, sambung Kustini, pihaknya telah menerbitkan Surat Edaran Bupati Sleman No. 032 Tahun 2023 tentang Panduan Pelaksanaan Kurban dan Pemotongan Hewan. Sebelumnya, pemkab juga telah melakukan sosialisasi tentang pelaksanaan kurban dan pemotongan hewan kurban di setiap kapanewon. Upaya tersebut dilakukan, agar warga memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan dan turut mencegah penyakit PMK, LSD, dan PPR.
Dikatakan, selama ini, momen pembagian daging kurban menjadi momen yang ditunggu oleh seluruh masyarakat. Semangat berbagi itu sebaiknya juga dikemas dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
“Selama ini banyak dijumpai pembagian daging kurban menggunakan kantong plastik yang kita ketahui merupakan salah satu limbah yang sulit diurai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, selain merusak lingkungan, kantong plastik berwarna hitam juga buruk bagi kesehatan karena berasal dari proses daur ulang yang sumbernya bisa dari berbagai limbah. Kantong plastik tersebut tidak memilki kualitas food grade, mengandung zat karsinogen, serta bahan kimia lainnya.
“Sangat disayangkan jika semangat berbagi di Hari Raya ini justru menimbulkan masalah baru bagi lingkungan kita,” tuturnya.
Tidak hanya itu selama pelaksanaan penyembelihan, pemkab akan menugaskan 300 orang petugas pengawasan pemotongan hewan kurban yang dikoordinasikan oleh 14 Puskeswan. Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman juga telah melakukan sosialisasi dan pembekalan kepada 40 orang mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM untuk dapat turut mengawasi pelaksanaan penyembelihan.
“Adanya upaya itu, saya harap dapat meminimalisir kesalahan dalam proses penyembelihan dan pengelolaan limbah hewan ternak,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Epiphana Kristiyani menuturkan hal serupa, pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Panitia kurban diimbau untuk membagikan daging menggunakan pembungkus yang ramah lingkungan.
“Kami sudah menganjurkan, bukan hanya tahun ini tapi dari tahun sebelumnya. Paling tidak jika panitia membagikan daging kurban ke masyarakat. Maka pakailah sarana yang mudah terurai seperti besek atau apa gitu. Jangan terlalu banyak menggunakan plastik,” terangnya.
Selain itu, ia juga mengimbau agar pembersihan hewan kurban setelah dipotong tidak dilakukan di sungai. Hal itu karena bisa mencemari lingkungan. Masyarakat diminta untuk membuat jugangan, dan setelah dipakai ditutup kembali.
Menurutnya, sungai di Sleman selama ini masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencuci ataupun membersihkan perabotan rumah tangga. Terlebih Sleman merupakan wilayah hulu.
“Jika kita membuang limbah ke sungai nanti warga di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pasti teriak-teriak. Ayok jaga lingkungan. Itu untuk anak cucu kita di masa depan,” pungkasnya. (bam/mg4)










