Energikan Ibadah Salat Siswa dengan Make a Match

Oleh: Dailah, S.Pd.I.
Guru PAI SDN 03 Sukorejo, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN merupakan salah satu prasyarat utama dalam meningkatkan martabat dan kualitas bangsa. Maka, pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan menjadi kebutuhan manusia yang esensial.

Untuk mewujudkan tujuan agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sangat erat sekali hubungannya dengan pendidikan agama dan moral, yang pada akhirnya tujuan diciptakannya manusia di dunia ini juga akan tercapai. Yaitu mengabdi atau beribadah kepada Allah SWT, dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pendidikan agama Islam (PAI) mempunyai peran strategis dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Karena pendidikan agama bersasaran langsung membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa. Karena itu, PAI merupakan bagian yang integral yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional di Indonesia. Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003, pasal 12 ayat 1 butir a, yang berisi setiap siswa pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.

Di lingkungan sekolah, seorang guru PAI mempunyai peranan, pengaruh, kewajiban untuk mendidik, melatih, dan membekali pengetahuan yang maksimal yang dapat mengantarkan peserta didik kepada tujuan pembelajaran. Anak akan dapat mengerjakan sholat dengan baik dan benar jika ia memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan salat.

Suprihatin (2015) berpendapat bahwa proses pembelajaran akan berhasil ketika siswa memiliki motivasi dalam belajar. Motivasi belajar merupakan dorongan kuat seseorang untuk melakukan sesuatu (Latipah, 2017). Motivasi merupakan kondisi awal yang harus dimiliki seseorang dalam pengasuhan (parenting) pada orang tua milenial (Latipah, 2020).

Motivasi dalam proses pembelajaran memiliki dua fungsi sebagaimana yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2010:251-252) dan Latipah (2017). Yaitu pendorong siswa untuk beraktivitas, dan sebagai pengarah. Maka, diperlukan upaya baru dalam kegiatan proses pembelajaran yang lebih kreatif, kompetitif, menarik, menyenangkan, dan melibatkan semua siswa untuk aktif serta memotivasi belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran make a match diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa yang akhirnya dapat meningkatkan prestasi hasil belajar dalam materi sholat. Menurut Djumiati (2010:35), make a match merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran. Model make a match dikenal sebagai model mencari pasangan lewat kartu. Siswa menerima kartu yang berisi pertanyaan atau jawaban, kemudian mereka mencari pasangan yang cocok sesuai kartu yang dipegangnya.

Model pembelajaran make a match merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif. Model make a match melatih siswa untuk memiliki sikap sosial yang baik dan melatih kemampuan siswa dalam bekerja sama, di samping melatih kecepatan berfikir siswa. Model pembelajaran make a match adalah salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada permainan. Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya. Siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.

Langkah-langkah penerapan metode make a match adalah sebagai berikut. Pertama, guru menyampaikan materi atau memberi tugas kepada siswa mempelajari materi lebih dahulu. Kedua, guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban. Ketiga, setiap siswa mendapat satu kartu, dan kemudian memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang di pegang.

Keempat, siswa mencari pasangan yang cocok berdasarkan isi kartu yang di pegang. Setelah waktu yang ditentukan habis, semua pasangan mempresentasikannya. Keenam, guru memberi konfirmasi, penghargaan, ataupun hukuman sesuai dengan hasil masing–masing pasangan. Ketujuh, diakhiri dengan memberi kesimpulan. (*)