KUDUS, Joglo Jateng – Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Jati, Kabupaten Kudus kembali menyelenggarakan gelar karya pada Sabtu (24/6). Kali ini mereka menjalankan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Bhineka Tunggal Ika, Gaya Hidup Berkelanjutan, hingga Bangunlah Jiwa Raganya.
Kepala SMP 2 Jati, Sarpani menjelaskan, kegiatan gelar karya adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh sekolah penggerak. Menurutnya, gelar karya adalah bentuk implementasi nyata atas pembelajaran yang telah dijalani siswa selama 1 tahun penuh.
“Hari ini (akhir pekan lalu, Red) kita juga beri hasil pembelajaran selama satu tahun dalam bentuk pemberian rapor kepada wali murid. Sebelum mengambil rapor wali murid kita sajikan berbagai karya dari anak-anak kami,” tuturnya.
Ia menambahkan, gelar karya kali ini dilakukan oleh para pelajar kelas VII dan VIII. Mereka menampilkan berbagai macam produk olahan makanan maupun minuman tradisional.
“Kami tampilkan hasil pembelajaran selama ini. Seperti, pakaian yang terbuat dari bahan baku bekas, dompet, tas, kripik singkong, hingga makanan tradisional lainnya. Awal acara juga kami tampilkan pertunjukan tari dari siswa,” tandasnya.
Sarpani berharap, gelar karya yang banyak menampilkan bakat kreasi anak dapat membuat wali murid percaya kepada pihak sekolah. Sehingga, akan terjalin kerja sama antara wali murid dengan pihak sekolah akan tambah baik lagi untuk kedepannya.
Sementara itu, Kasi Kurikulum Dikdas Disdikpora Kudus, Afri Shofianingrum memberikan apresiasi atas terselenggaranya gelar karya tersebut. Menurutnya, gelar karya adalah salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada wali siswa atas capaian belajar yang telah dijalani.
“Ini pas sekali, gelar karya di lakukan waktu pengambilan rapor. Sehingga nanti orang tua akan mengetahui perkembangan sekolah itu. Tidak hanya ambil rapor terus pulang. Biar orang tua tau ada kegiatan yang dapat menunjang capaian belajar anak,” ujarnya.
Afri menginginkan semua sekolah bisa menyelenggarakan gelar karya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada wali siswa. Meskipun baginya kegiatan yang dilakukan tidak harus meriah.
“Sederhana tidak ada masalah, cukup menampilkan apa yang mereka bisa, itu sudah menjadi bagian dari pendidikan karakter. Karena, pendidikan karakter bisa dimulai dari hal-hal kecil yang bisa membuat siswa bertanggungjawab,” pungkasnya. (cr3/fat)










