Jepara  

Air Belik Winong Dipercaya Sukseskan Politisi

Warga Desa Sukosono saat mengambil air Belik Winong
CARI BERKAH: Warga Desa Sukosono saat mengambil air Belik Winong, beberapa waktu lalu. (MUHAMMAD AGUNG PRAYOGA/JOGLO JATENG)

SELAIN kekuatan politik, elektabilitas, sampai intelektual, jalan mistis atau spiritual turut jadi upaya seorang calon pemimpin menduduki singgasana kekuasaan. Melalui upaya mistis atau spiritual tak sedikit politisi mendatangi tempat-tempat tertentu. Seperti di sumber mata air Belik Winong di Desa Sukosono, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.

Sebagaimana yang dilakukan Bupati Jepara periode 2002 – 2012, Hendro Martojo. Berdasarkan keterangan Moden Desa Sukosono, Mohammad Sholeh, sebelum singgah menjadi bupati, Hendro Martojo dikabarkan mata air Belik Winong. Berharap memperoleh kewibawaan dan kemenangan.

“Memasuki tahun politik, Hendro Martojo menggunakan air Belik Winong. Siapa sangka, menang,” papar Sholeh kepada Joglo Jateng, belum lama ini.

Menurutnya, cerita tadi merupakan rahasia umum di kalangan masyarakat Desa Sukosono. Namun cerita lain, Bupati Jepara setelah Hendro Martojo, bukan mencari kemenangan, justru pengobatan.

Kesaktian air Belik Winong ini, menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, sebagai petilasan tempat wudhu Sunan Kalijaga. Kemudian, dirawat Eyang Sarjo, menantu mbah Basyi (Basyiman) Sahabat Mbah Datuk Singaraja Gurunadhi.

Belik Winong secara turun temurun dirawat oleh kerabat Eyang Sarjo. Di sebelah barat grojogan Belik Winong ada sumber mata air kecil Tirta Panguripan yang diyakini masyarakat untuk ngalap berkah.

Sementara itu, ketika memasuki Bulan Apit (Dzulqaidah), masyarakat Desa Sukosono melaksanakan ritual sedekah bumi. Langkahnya, dengan mencampur air dari delapan penjuru dalam satu wadah berisi Tirta Panguripan.

“Air tersebut sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Secara adat turun temurun, Belik Winong inilah lokasi percampuran air delapan penjuru sebelum pelaksanaan sedekah bumi,” terang Petinggi Desa Sukosono, Zaenal Arifin.

Setelah itu, air diarak bersama hasil bumi mengelilingi Desa Sukosono. Ini merupakan lelakon (rutinan) masyarakat setiap sedekah bumi. (cr2/gih)