Jepara  

Perceraian di Jepara Tembus 2.000-an Kasus

SUASANA: Kantor Pengadilan Agama Jepara, belum lama ini. (MUHAMMAD AGUNG PRAYOGA/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Kasus perceraian di Kabupaten Jepara mencapai angka 2.000-an. Mayoritas penyebabnya antara lain karena perselisihan terus menerus dan faktor ekonomi.

Panitera Muda Pengadilan Agama Kabupaten Jepara, Mahmudi mengatakan, perceraian di kalangan masyarakat terus saja terjadi, bahkan menjelma sebagai tren.

“Pecahnya bahtera rumah tangga, disebabkan salah satu pihak tidak mampu melewati aral yang melintang. Konflik terus saja berdatangan sehingga perceraian terjadi,” papar Mahmudi kepada Joglo Jateng, Jumat (24/11).

Tingginya perceraian di Kabupaten Jepara, berdasarkan laporan Pengadilan Agama, sebanyak 822 kasus perceraian dikarenakan perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Ini jadi faktor yang mendominasi. Berikutnya 643 dari ekonomi, dan yang ketiga meninggalkan salah satu pihak sebanyak 152.

Baca juga:  Musim Hujan, Harga Garam Mulai Naik

Menurut Mahmudi, perceraian akan terus meningkat dan diprediksi di akhir tahun 2023, sampai 2.400 kasus. Bukan tanpa alasan, hal tersebut berdasarkan angka perceraian per hari ini, yang menembus 1.944 kasus lebih. Terdiri dari 1.533 cerai gugat dan 411 cerai talak.

Mahmudi menyebut, faktor mendasar mengapa perceraian di Kabupaten Jepara terus meningkat dari tahun ke tahun, disebabkan salah satu pihak yang kurang terima (bersyukur).

“Modal dalam berumah tangga, bukan hanya finansial. Melainkan juga pengendalian emosi, jiwa, serta pengetahuan untuk berumah tangga termasuk kepada pasangan. Jika tidak, syahdan, perceraian terus meninggi,” pungkasnya.

Baca juga:  Segitiga Epidemiologi Jadi Faktor Penyebaran DBD

Sebagai informasi, angka perceraian dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada 2020 mencapai 2.154. Sempat turun pada 2021, menjadi 2.072. Namun naik lagi di angka 2.132 di tahun 2022. (cr2/gih)