MESKI hanya berjualan kue pukis di pinggir jalan, tepatnya di Jalan MT. Haryono No 123, Tanjung Mas, Kota Semarang, Kue Pukis Petudungan berhasil meraih omzet hingga Rp 8 Juta perbulan. Tempatnya berdagang ramai dikunjungi oleh pembeli lokal dan salah satu tokoh olahraga yaitu Chris John yang sampai saat ini masih berlangganan.
Saat datang ke lokasi, pengunjung dapat merasakan bau semerbak dari adonan kue pukis yang baru dituangkan semakin menarik perhatian dan tercium sangat mengunggah selera. Banyak pembeli mengantre hingga cukup panjang dan membeli dalam jumlah besar.
Pemilik Usaha Kue Pukis Petudungan, Mardjuki (63) mengaku, pendapatan sebanyak Rp 8 juta yang ia dapat merupakan hasil penjualan bersihnya. Sementara untuk penghasilan kotornya ia bisa mendapatkan omzet sebesar Rp 16 Juta perbulan.
“Saya sudah berjualan kue pukis sejak tahun 1983 silam atau 40 tahun lamanya. Awal mulanya itu saya ingin membuka usaha kuliner yang dimulai pada usia 20 tahunan,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.
Pada awal buka, dirinya hanya menyediakan rasa coklat kacang, keju, nanas, dan strawberry. Namun, seiring berjalanya waktu, semakin banyak varian rasa yang disajikan seperti, abon sapi, pisang coklat, moccacino, sokade, dan kismis.
“Jenis rasa yang paling sering dibeli dan disukai oleh pembeli yaitu rasa coklat,” jelasnya.
Ia menambahkan, resep agar usahanya tidak punah yaitu dengan mempertahankan citarasa yang menggunakan bahan berkualitas dan tidak berpengawet. Dalam satu kali masak, Mardjuki bisa memasak 40 buah kue pukis dalam 2 cetakan. Satu buah kue pukis dijual dengan harga terjangkau, yaitu Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu saja.
Kue Pukis Petudungan buka setiap hari pada pukul 16.30 hingga 19.30. Biasanya, sejak awal buka antren sudah mulai memanjang.
Untuk mengantisipasi antrian yang cukup panjang, para pembeli dapat memesan terlebih dahulu melalui WhatsApp. Kemudian setelah sudah jadi, mereka hanya mengambil saja ditempat.
Lebih lanjut, ia menerangkan, ada kisah manis dan pahit saat awal memulai usaha seperti susah mencari pembeli. Namun, setelah adanya media sosial akhirnya makin banyak orang yang mulai mengetahui dan menjadi pelanggan tetap sampai saat ini. Dirinya juga menuturkan, sempat tidak bisa berjualan beberapa bulan lantaran lokasi disana seringkali terkena banjir. (cr7/mg4)










