KOTA, Joglo Jogja – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, membentuk delapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) baru, tingkat SD dan SMP Negeri. Itu dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan kebencanaan di lingkugan sekolah.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta Aki Lukman Nor Hakim mengatakan, tahun ini dilakukan pembentukan delapan SPAB baru. Jumlah itu sama seperti di 2023 lalu.
“Pembentukan SPAB kami mulai dari 2022 dan setiap tahunnya ada delapan sekolah. Rinciannya ada empat SD dan empat SMP. Kami fokuskan ke sekolah negeri dulu dalam pembentukannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta Darmanto menjelaskan, pembentukan ini dilakukan guna membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta budaya siaga dan pengurangan risiko bencana di lingkungan sekolah. Sehingga terkoordinasi pemanfaatan sumber daya ada untuk memberikan perlindungan dari ancaman dan dampak bencana.
“Kewenangan kami memberikan pelatihan baik secara teori sampai simulasi bencana di lapangan. Nantinya, pendampingan SPAB itu akan kami mulai di Juli,” tambahnya.
Lebih lanjut, komponen dalam pembentukan SPAB antara lain terkait manajemen dasar dalam menghadapi kebencanaan, mitigasi bencana serta jalur evakuasi. Di mana, pihaknya menyampaikan terkait teknis dan pelaksanaannya, serta melihat potensi kebencanaan yang ada di sekitar sekolah.
“Sebelum SPAB dimulai, kami bersama akan melaksanakan kunjungan lapangan memetakan kondisi situasi sekolah. Untuk menggali informasi awal terkait potensi kerawanan serta mitigasinya,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikpora Kota Yogyakarta Hasyim menambahkan, SD dan SMP yang akan diusulkan dalam program SPAB di antaranya SMPN 1 Yogyakarta, SMPN 5 Yogyakarta, SMPN 7 Yogyakarta dan SMPN 15 Yogyakarta. Kemudian SDN Bhayangkara, SDN Bangunrejo 2, SDN Kotagede 1 dan SDN Kintelan 2.
“Sekolah itu dipilih mempertimbangkan kesiapan yang ada. Selain itu kondisinya cukup luas dan siswanya relatif banyak. Misalnya di SMP 15 kelasnya sampai J dan bangunan berlantai dua. Jadi harus dikondisikan supaya memiliki kesiapan apabila terjadi bencana, sehingga tidak ada korban. Ke depan secara bergiliran semuanya menjadi SPAB,” tandasnya.(riz/sam)










