Kasus DBD di Semarang Menurun Siginifikan

Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menyebut kasus demam berdarah dengue (DBD) di Ibu Kota Jawa Tengah telah menurun siginifikan dalam satu tahun terakhir ini. Dari data yang dihimpun, kasus DBD tahun 2022 mencapai 865 kasus dengan angka kematian sebanyak 33 orang.

Kemudian pada 2023, angka kasus DBD turun signifiksan menjadi 404 kasus dengan angka kematian sebanyak 16 orang. Sementara sepanjang awal tahun ini ada 36 kasus DBD dan tidak ada kasus kematian.

Selamat Idulfitri 2024

“Setiap tahun kami membuat prediksi kasus DBD tingkat Kota Semarang. Kami juga punya peta kerentanan dan potensial dampak,” ucap Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam saat dikonfirmasi Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  Enam Orang Meninggal akibat Leptospirosis

Berdasarkan peta itu, kata Hakam, pihaknya akan melakukan antisipasi. Khususnya di daerah padat penduduk.

“Daerah padat seperti Tembalang, Banyumanik, Semarang Utara, itu wilayah dengan wilayah rentan kasus,” jelasnya.

Dinkes, lanjutnya, juga telah melakukan langkah pencegahan dan penanganan penyakit DBD agar tidak semakin meningkat. Terlebih, di musim hujan seperti saat ini.

“Sekarang kita sudah tahu peta daerah-daerah rentan DBD. Itu yang kita perintahkan kepada jajaran di kelurahan dan puskesmas untuk melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk, Red.) atau PJN (pemberantasan jentik nyamuk, Red.). Itu yang efektif sekali,” paparnya.

Baca juga:  29 Sekolah di Demak Masih Kebanjiran

Hakam meyakini, jika PSN dan PJN dilakukan dua kali dalam sepekan, maka pertumbuhan dan jumlah nyamuk tidak akan banyak. Di sisi lain, dinkes juga tetap mengupayakan 3M Plus. Yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air. Kemudian mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.

Bahkan, lanjutnya, Dinas Kesehatan juga menggandeng Dinas Pendidikan untuk memberdayakan anak-anak sekolah. Yakni melalui program Siswa Cari Jentik (Si Centik).

“Kader-kader PKK turun secara intens melakukan PJN dan PSN. Adek-adek di sekolah melakukan program Si Centik juga jalan dengan baik. Peta kerawanan ini mulai kami gerakkan dari tingkat RT hingga RW juga,” pungkasnya. (int/adf)