BERASAL dari keluarga yang berwirausaha menumbuhkan ketertarikan mahasiswi Program Sarjana Akuntansi Udinus, Annisa Tariza Fitri terhadap bisnis di bidang fashion.
Ia berhasil menjalankan usaha dengan brand @aalleeafashion. Bisnis online shop itu pertama kali dirintis pada masa pandemi tahun 2020-2021.
Menurut Annisa, dalam memulai usaha, ada dua hal terpenting. Yaitu niat dan konsisten.
Menurutnya, banyak hal yang tidak terduga sehingga dapat membuat bisnis naik turun dan hasilnya tidak bisa langsung terlihat dalam waktu sebulan atau dua bulan.
“Kebanyakan orang mungkin ada niatnya, tapi tidak sabar dan konsisten, jadi berhenti di tengah jalan. Dengan niat yang baik dan usaha untuk konsisten, insyaa Allah nanti usahanya pasti akan berjalan baik,” ucapnya, kemarin.
Ia menjelaskan, karena pembatasan mobilitas di masa pandemi, dirinya memiliki banyak waktu luang di rumah. Banyak sektor juga berbondong-bondong beralih ke sistem online.
“Jadi saya juga mencoba untuk membuka online shop. Kebetulan, orang tua saya usahanya juga di bidang manufaktur pakaian, sehingga saya manfaatkan peluang tersebut,” terang perempuan kelahiran 2001 itu.
Selama mengelola bisnis, kata Annisa, dirinya sudah melewati kondisi pasang surut. Di antaranya over orderan, pembeli usil yang memilih metode cash on delivery (COD) tetapi tidak dibayar, hingga pembekuan akun.
Bahkan akun niaganya juga sempat ditutup oleh platform e-commerce karena dianggap melanggar peraturan aplikasi. Saat itu, ia belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa tantangan yang paling terasa adalah pada pemasaran produk. Hal itu mengingat bisnisnya berkaitan dengan penggunaan teknologi digital.
“Banyak hal yang perlu dipelajari. Contohnya dari segi iklan, strategi endorse, hingga ide konten,” katanya.
Meski begitu, dirinya tidak menyerah begitu saja. Annisa memanfaatkan segala peluang yang ada. Termasuk dengan mengikuti program Wirausaha Merdeka (WMK) Udinus.
“Untuk mengatasi tentang itu, saya ikut program WMK Udinus. Di situ, saya dibimbing oleh para pelaku usaha langsung terkait bagaimana cara beriklan, memasarkan produk, dan banyak ilmu lain,” papar perempuan asal Kudus tersebut.
Sebagai mahasiswa manajemen, ia mengaku mendapat banyak ilmu perkuliahan yang dapat diaplikasikan dalam bisnisnya. Contohnya pada mata kuliah e-commerce yang mempraktikkan cara pembuatan web, akutansi untuk pembukuan, hingga pemasaran untuk penentuan target konsumen.
“Hampir semua mata kuliah di prodi manajemen relevan dengan kegiatan usahaku. Yang paling berpengaruh di mata kuliah keuangan dan pemasaran,” ungkapnya. (int/adf)










