Sekda Kota Semarang: 1,6 Juta Penduduk Wajib Miliki Kesadaran Lingkungan

TERGENANG AIR: Kondisi banjir yang mulai surut di sepanjang Jalan Kaligawe, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, bulan lalu. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang Iswar Aminuddin menegaskan, sebanyak 1,6 juta jiwa penduduk di Kota Semarang harus memiliki kesadaran lingkungan maupun sosial. Jika tidak seperti itu, maka persoalan banjir tidak dapat terselesaikan dengan baik.

Ia menekankan pentingnya pembuatan biopori yang di gunakan untuk resapan air dan mengatasi banjir. Dengan adanya biopori, air hujan dapat meresap ke dalam tanah dengan lebih efisien. Lubang pada biopori memungkinkan air untuk meresap secara vertikal, sehingga mengurangi terjadinya banjir di area perkotaan.

Baca juga:  Iswar Kembalikan Formulir Pendaftaran Calon Wali Kota ke DPC PSI

“Karena harapannya kita misalkan terbangunlah biopori berdiameter 1 meter kapasitasnya berapa. Untuk membalikkan 50 persen (ruang untuk, Red.) infiltrasi atau resapan itu harus dilakukan,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, belum lama ini.

Iswar juga menegaskan agar masyarakat yang tinggal di Kota Semarang bagian bawah tidak mengambil air tanah. Yakni agar tidak terjadi penurunan tanah yang bisa memperparah banjir.

“Kalau daerah bawah itu jangan mengambil air tanah biar tidak terjadi penurunan. Itu aja tugasnya yang di bawah. Tahun ini sedang membangun jalan Semarang – Demak yang ada kolam retensi 200 sekian hektare,” ujarnya.

Baca juga:  Abdul Kholik Isyaratkan Maju Pilgub Jateng Jalur Independen

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Hanik Khoiru Solikah mendorong pemerintah untuk terus mengoptimalkan penanganan di sejumlah wilayah yang seringkali terdampak banjir. Termasuk di wilayah pesisir. Hal itu lantaran, masih banyak penduduk di daerah tersebut yang secara ekonomi berpenghasilan rendah.

Menurutnya, permasalahan itu dipicu lantaran lingkungan rumahnya kurang memadai lantaran sering terdampak rob maupun banjir. Sehingga, ia meminta agar penanganan wilayah yang kerap terdampak banjir harus segera ditangani dengan serius.

Menurutnya, angka kemiskinan bukan hanya dilihat dari pendapatan. Namun juga lingkungan tempat tinggal mereka.

Baca juga:  Capai Banyak Penghargaan, Ita Ucapkan Terima Kasih pada Masyarakat

“Sehingga hal itu menjadi tolak ukur kelihatan miskinnya atau enggak. Kalau makan cukup tapi lingkungan masih gak cukup seperti kumuh. Karena kondisi wilayah yang belum maksimal dan wilayah rob banjir ini masih sulit ditangani ini yang mestinya terus dipacu,” ujarnya. (int/adf)