SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang berupaya untuk meningkatkan mitigasi terhadap perubahan iklim dan kesehatan melalui Rapat Kerja Kesehatan (Rakerkes) Kota Semarang Tahun 2024. Kegiatan bertajuk ‘Perubahan Iklim dan Kesehatan Masyarakat Makin Kompak Makin Hebat Melesat Menuju Indonesia Emas’ ini berlangsung di Hotel Quest Semarang, Selasa (16/7/24).
Agenda tersebut digelar selama dua hari, pada 16 hingga 17 Juli 2024. Berbagai macam organisasi profesi dan stakeholder lainnya mengikuti rapat ini. Mereka berasal dari perwakilan puskesmas, klinik, dokter praktik, rumah sakit negeri dan swasta hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam menjelaskan, pihaknya ingin mendiskusikan banyaknya kasus kesehatan yang disebabkan oleh perubahan iklim di Kota Atlas sejak 2023 hingga 2024 ini. Seperti contohnya demam berdarah (DB), kesehatan mental hingga kesehatan ibu dan anak, terutama pada nutrisi.
“DB ini saat di siklus El Nino begitu ocean (health, Red.) index-nya naik ada di berada di level naik 2 sampai 3 bulan akan naik di daratan. Tetapi kalau musim dingin suhunya tinggi, maka gak harus nunggu 2 sampai 3 bulan kasus itu akan naik. Kata kuncinya di peran masyarakat karena PJN (pemeriksaan jentik nyamuk, Red.) ini rutin bisa dicegah,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, Selasa (16/7/24).
Dalam upaya mitigasi itu, pihaknya juga mempunyai peta kerentanan dan potensia dampak yang bernama Cakrawala Buana. Manfaatnya untuk mengetahui kerentanan di tingkat kelurahan untuk mengetahui potensi kasus penyakit yang terjadi di sana.
“Bahkan, teman-teman puskesmas bisa membuat (peta kerentanan, Red.) per RW. Mana sebetulnya di antara RT dan RW yang bisa dilakukan intervensi itu agar tidak merah (zona, Red.) ini. Di 2024 kita siapkan teman-teman di puskesmas melakukan hal itu,” jelas Hakam.
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu mengukapkan, sudah ada empat inovasi yang dibuat oleh Dinkes guna meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan primer kepada masyarakat. Di antaranya Anjaswara, Khatulistiwa, Ronaldia dan Rotan Semar.
“Anjaswara itu bentuk pelayanan yang dapat mengurangi biaya kesehatan. Di situ ada berbagai macam tes kesehatan seperti tes gula, kolesterol, asam urat yang biasanya berbayar,” ungkapnya.
Kemudian, lanjutnya ada juga Khatulistiwa yang merupakan pendeteksi polusi udara yang ditempatkan di masing-masing puskemas di Kota Semarang. Lalu, Ronaldia, yaitu robot secara umum yang bisa menjawab pertanyaan seputar kesehatan kepada masyarakat.
“Terakhir, Rotan Semar, yaitu penanganan TBC di Semarang khususnya anak-anak. Seperti yang kita tau TBC ini salah satu penyebab anak stunting yang lama sembuhnya. Kalau anak-anak stunting yang hanya kekurangan gizi cukup dua sampai tiga bulan dia lulus tes stunting. Tetapi kalau anak yang menderita TB biasanya sampai enam bulan dengan minum obat setiap hari,” papar Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita.
Rotan Semar, kata dia, bisa menangani anak-anak yang terkena TB. Sehingga mereka menjadi anak yang sehat dan kembali ceria. (int/adf)










