Akulturasi Arsitektur Jawa-Tionghoa di Ponpes Kauman Lasem

UNIK: Pengurus Ponpes Kauman saat menunjukkan salah satu arsitektur bangunan pondok yang bernuansa Jawa-Tionghoa, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Lasem menjadi salah satu kota penting dalam perkembangan pemukiman Tionghoa di Indonesia. Bahkan, beberapa penelitian menyimpulkan bahwasanya Lasem dijuluki sebagai Tiongkok Kecil.

Lasem merupakan refleksi perpaduan kebudayaan Arab, Tionghoa dan pribumi yang selaras. Wilayah ini dikenal sebagai tempat awal pendaratan orang Tionghoa di Pulau Jawa. Bahkan sejarah tersebut masih terukir dalam arsitektur perkampungan Tionghoa dengan rumah-rumah kuno yang unik. Seperti di Jalan Karangturi dan Desa Soditan. Ditambah dengan keberadaan tiga kelenteng megah juga berdiri di Lasem.

Di samping itu, Lasem juga menjadi salah satu simpul jaringan penyebaran agama Islam yang tampak dari kehadiran pesantren-pesantren. Terciptanya simbol toleransi dengan adanya puluhan pondok pesantren tua yang bahkan beberapa di antaranya memiliki arsitektur bergaya Tionghoa. Salah satunya adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Kauman Lasem, yang terletak di Kauman Desa Karangturi, Lasem, Rembang.

Pondok Pesantren Kauman adalah pondok pesantren yang bisa dibilang unik atau langka karena mempunyai bangunan yang berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya. Yaitu bangunan khas Tiongkok yang mencerminkan adanya persatuan antara penghuni pondok  pesantren dengan masyarakat sekitar pondok.

Di bawah pengasuhan M. Zaim Ahmad Ma’shoem (Gus Zaim), arsitektur Pondok Pesantren Kauman Lasem mempertahankan dan menggabungkan unsur budaya Tionghoa dan Jawa. Tidak seperti pondok pesantren pada umumnya yang membangun gedung-gedung dengan gaya modern.

SUASANA: Para santri tengah beraktivitas di lingkungan Ponpes Kauman Lasem. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Saat ditemui Joglo Jateng, Pengurus Ponpes Kauman, M Munawir menjelaskan, pondok pesantren yang berdiri sejak 2005 ini awalnya adalah bekas bangunan penginapan masyarakat Tionghoa. Ia menyebut, Ponpes Kauman yang saat ini memiliki 600 santri tersebut adalah salah satu pesantren yang berdiri di tengah-tengah masyarakat Tionghoa di Lasem dan menjadi ikon toleransi beragama.

Hal ini terlihat dari bentuk akulturasi arsitektur Jawa-Tionghoa pada berbagai bangunan. Misalnya di pos penjagaan yang terletak di jalan masuk Pondok Pesantren Kauman yang dibangun menyerupai kelenteng. Pos penjagaan itu didominasi warna merah dengan papan nama ponpes digantung di salah satu sisi atapnya. Tulisan Mandarin dan Arab pun menghiasi dinding pos penjagaan.

“Tulisan ini berisi anjuran untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga. Karena selama ini kehidupan harmonis antara santri dan masyarakat Tionghoa terlihat dalam berbagai kegiatan. Termasuk acara besar pondok yang melibatkan tetangga sekitar,” ujarnya.

Selain itu, Rumah Induk di Ponpes Kauman juga merupakan rumah Tionghoa yang berpadu dengan arsitektur Jawa, Tionghoa, dan kolonial. Rumah tersebut memakai atap khas rumah Jawa, lalu lantai terbuat dari terakota, ornamen-ornamen, pintu, tiang dan kerangka ala arsitektur Tionghoa. Dan gaya kolonial tampak pada dinding rumah.

“Di atas pintu masuk rumah induk ini juga terdapat bukti pengaruh arsitektur Tionghoa, yaitu ornamen kayu berbentuk 12 anak panah melingkar mirip simbol Mataram Kuno. Sedangkan bangunan asrama santri terdiri tiga bentuk. Yaitu Gladak (lumbung padi, Red.), rumah gaya Tionghoa, dan Rumah tradisional Jawa,” jelas Munawir.

Tak ketinggalan, ikon lampion terpasang di pos penjagaan, di depan rumah induk, di depan musala, di kamar-kamar para santri, di pendopo, dan lain-lain. Lampion-lampion ini ada yang menggunakan aksara Mandarin dan ada pula yang bertuliskan Arab.

“Lampion ini berfungsi sebagai alat penerangan, ungkapan wujud toleransi masyarakat pondok terhadap masyarakat Tionghoa di sekitar pondok. Sekaligus media pembelajaran santri terhadap nilai-nilai toleransi,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Ponpes Kauman Lasem, Imam Rosyidi menambahkan bahwa kehidupan di pondok selalu berdampingan harmonis dengan masyarakat Tionghoa sekitar. Dengan menjunjung toleransi bertetangga dengan masyarakat Tionghoa sekitar pesantren, lingkungan tercipta sangat indah dan harmonis.

Setiap tahun, santri dan warga Tionghoa bersama-sama merayakan hari besar seperti Imlek dengan acara dialog interaktif multikultural. Mereka mengundang berbagai agama untuk berdiskusi dan mempererat kerukunan antarumat beragama di Lasem.

“Selain itu, contoh nyata dari toleransi ini adalah kerja bakti bersama serta acara tahunan ro’an toleransi yang melibatkan santri dan warga Tionghoa,” imbuhnya.

Lasem bukan hanya menyimpan sejarah keberadaan Tionghoa di Jawa. Namun, juga menjadi contoh nyata bagaimana keragaman budaya dan agama dapat hidup berdampingan dalam harmoni. (cr3/adf)