INDONESIAN Fashion Chamber (IFC) Semarang mengampanyekan penggunaan sarung sebagai lifestyle di Atrium Mall Paragon Semarang. Kegiatan ini digelar dalam rangka Peringatan Hari Sarung Nasional 2025 yang jatuh pada 3 Maret.
Puluhan orang yang tergabung dalam komunitas tersebut, dari muda hingga tua berkeliling di Mall Paragon Semarang dari lantai satu sampai empat dengan membawa pamflet dengan berbagai tulisan. Seperti Bangga Bersarong, Keren Bersarong, hingga Sarong Masa Kini!.
Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang, Sudarna Suwarsa menyampaikan kegiatan bertajuk Sarong is My New Style ini bertujuan untuk mendorong masyarakat terutama kalangan anak muda agar menjadikan sarung sebagai busana keseharian. Baik untuk acara formal maupun non formal.
“Ke depan diharapkan sarung menjadi identitas budaya bangsa dan juga mendorong industri kreatif di bidang fashion,” jelasnya.
Pada kegiatan itu, peserta yang hadir mendapat edukasi tentang sarong, praktik styling sarong modis keren dan kekinian hingga flashmob. Lebih lanjut, Sudarna membeberkan bahwa sarung sendiri merupakan pakaian tradisional Indonesia yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Pemakaian sarong tidak terbatas pada gender tertentu.
Kendati demikian hingga kini, masih banyak masyarakat di Indonesia yang berpikir bahwa sarung biasa digunakan untuk ibadah. Padahal fungsinya jelas berbeda.
“Kalau fungsinya untuk ibadah secara otomatis akan berbeda dengan fungsi ketika kita jalan-jalan atau ke pesta. Kalau ibadah tentu lebih clean motif simpel,” imbuhnya.
Ia menambahkan, kampanye Sarong Movement ini juga untuk memberikan inspirasi gaya baru bersarong menjadi tampilan kekinian, mengglobal, dan bisa dikenakan dalam segala suasana.
“Sekarang kita sedang gencarkan eco-fashion. Jadi fashion yang berkelanjutan fashion yang ramah lingkungan, itu yang kita terapkan. Jadi ketika kita memakai sarung akan berbeda style-nya,” bebernya.
Sementara Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Samsul Bahri Siregar mengapresiasi kegiatan Sarong Movement Campaign ini. Ke depan pihaknya berharap event khusus tentang kampanye penggunaan sarung diperbanyak. Sehingga masyarakat lebih bisa menerima sarung sebagai lifestyle.
“Inilah menggambarkan bagaimana kemudian ternyata sarung ini menjadi salah satu yang sangat diminati oleh masyarakat. Bukan lagi dianggap sebagai desa atau kuno. Tetapi bagaimana kemudian sarung menjadi nasional,” ungkapnya. (luk/adf)










