JATMA Aswaja, Upaya Membangun Bangsa dan Mengokohkan Nasionalisme melalui Tarekat

Sekretaris Jenderal Jam’iyyah Ahlussunnah al-Mu’tabarah Ahlussunnah wal Jamaah (JATMA Aswaja), Dr. H. Helmy Faishal Zaini. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

Sekjen JATMA Aswaja Helmy Faishal Zaini menjelaskan bahwa organisasi ini dibangun di atas dua pilar utama, yakni pertama, membangun transendentalisme dan kedua, pemberdayaan ekonomi ummat.

“Menjadikan thariqah sebagai jalan penguatan hubungan antara hamba dan Allah. Dalam dunia yang penuh distraksi, manusia membutuhkan ruang sunyi—dan thariqah menyediakan ruang itu secara sistematis. Dzikir, suluk, dan adab kepada mursyid bukanlah praktik yang asing dari kehidupan sosial, tetapi justru menjadi fondasi kesalehan publik. JATMA ASWAJA mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali pada tradisi dzikir berjamaah, pengajian thariqah, dan penguatan sanad keilmuan serta ruhaniyah,” ungkapnya.

Selain itu ia menjelaskan bahwa spirit thariqah tidak anti-dunia. Sebaliknya, thariqah mendorong umat untuk memakmurkan bumi.

Maka, JATMA ASWAJA berkomitmen menjalankan dakwah integral: menyucikan jiwa dan memandirikan ekonomi. Melalui jaringan koperasi, pemberdayaan UMKM, hingga gerakan filantropi berbasis pesantren dan zawiyah, JATMA ASWAJA ingin memastikan bahwa para pengamal thariqah tidak hanya kuat secara ruhani, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan sosial.

Selanjutnya, menurut Helmy Faishal, JATMA ASWAJA berdiri di atas nilai-nilai Islam Wasathiyah—konsep Islam pertengahan yang menolak ekstremisme dan keberagamaan yang kaku. “Prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi nilai yang tak terpisahkan dari praktik thariqah sejak dulu,” jelasnya.

Sekjen Helmy Faishal mengungkapkan, bahwa para mursyid Thariqoh mengajarkan bahwa beragama jangan sampai kehilangan kontak dengan realitas. “Karena esensi beragama adalah mengajarkan tentang generosity, yakni sikap kedermawanan, yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin. Ini menjadi penting untuk konteks global dan domestik sekarang ini, yang relevan dengan kondisi bangsa.”